Pages

May 30, 2012

Rekrutmen Berkualitas dan Berkuantitas


       Staff Dept. Rekrutmen dan Pembinaan Kader 
       UKMI Ar- Rahman UNIMED 2011- 2012

Peningkatan kualitas kader harus diimbangi dengan peningkatan kuantitas. Tidak dipungkiri bahwa ketika suatu LDK memiliki kader yang cukup loyal dan punya kemampuan dalam tiga ranah dakwah (da’awiy, siaysih, ilmy), namun jumlahnya sangat sedikit tentu manajemen perencanaan- perencanaan organisasi akan mengalami hambatan. Akan terjadi kekurangan pementor, kekurangan massa, kekurangan dukungan. Memahami hal ini, rekrutmen yang berkualitas menjadi satu harapan besar bagi keberjalanan dakwah di seantero kampus.


Untuk memenuhi kebutuhan kader, LDK dapat menjalankan dua mekanisme rekrutmen, yaitu  masif dan personal.
Rekrutmen masif adalah adalah rekrutmen terbuka bagi seluruh mahasiswa muslim di kampus yang dapat berupa kegiatan- kegiatan syi’ar. Sedangkan rekrutmen personal adalah rekrutmen yang dilakukan secara langsung oleh formatur LDK dan pengurus LDK, atau bahkan oleh kader-kader LDK terhadap individu-individu tertentu yang dianggap memiliki kecenderungan kepada Islam dan memiliki potensi yang besar untuk dakwah. Perekrutan secara personal ini dapat diikuti oleh proses pembinaan saja atau pun sekaligus menempatkannya pada struktur LDK jika dirasa perlu dan standar kepribadian dan kompetensinya telah terpenuhi.

Salah satu parameter berhasilnya kaderisasi adalah terbentuknya kader- kader dengan kapasitas yang ditargetkan secara konkret. Untuk itu, demi terciptanya LDK yang mandiri, profesional, dan regeneratif maka perlahan-lahan setiap LDK diharapkan mampu menghasilkan kader-kader inti secara mandiri melalui alur kaderisasi yang dijalankannya. LDK harus mampu berperan sebagai “kawah candradimuka” yang dapat mentransformasi individu-individu yang pada awalnya belum memiliki kompetensi apa-apa menjadi individu-individu yang memiliki kompetensi keislaman yang tinggi, profesional, intelek, dan siap terjun di lapangan.

Teknis : Langkah-langkah Rekrutmen Massif
Dalam melakukan rekrutmen masif, secara teknis dapat mengikuti prosedur berikut.
a.    Sosialisasi LDK
Tujuan:
-       Mengenalkan LDK kepada seluruh civitas akademika kampus.
-       Menarik minat seluruh civitas akademika kampus khususnya
mahasiswa/i muslim/ah untuk bergabung dengan LDK.

b.      Publikasi rekrutmen
Tujuan:
-       Memberikan informasi kepada seluruh civitas akademika kampus bahwa LDK mengadakan rekrutmen untuk seluruh civitas akademika kampus.

c.    Penyebaran dan pengembalian formulir rekrutmen dan isian biodata calon kader
Tujuan:
-       Mengumpulkan data awal calon kader.
-       Mengenali karakteristik calon kader (biodata singkat, pengalaman organisasi, motivasi bergabung dengan LDK, keterampilan khusus yang dimiliki, pilihan aktivitas yang diminati).

4. Pengolahan data calon kader
Tujuan:
-       Mendapatkan gambaran umum tentang karakteristik calon kader LDK.
-       Mendapatkan database calon kader.

5. Wawancara calon kader (opsional)
Tujuan:
-       Mengenali calon-calon pengurus secara baik dan lebih mendalam (pemahaman keislamannya, harapan-harapannya terhadap LDK, motivasinya, pilihan aktivitas yang diminatinya kelak jika bergabung dengan LDK, tingkat komitmennya dengan dakwah, pengalaman organisasinya, gaya kerjanya, tingkat pengetahuannya terhadap amanah yang akan dijalankannya, konsep diri dan manajemen pribadinya).
-       Memasukkan kader ke dalam kelompok-kelompok pembinaan yang sesuai.

6. Publikasi pengurus
Tujuan:
-       Menginformasikan kader-kader LDK baru yang akan menjalani alur kaderisasi kepada civitas akademika kampus.

Hal-hal penting yang perlu digali dari calon kader pada saat proses
rekrutmen, setidaknya adalah:
1. Data diri calon kader (nama, tempat/tanggal lahir, jenis kelamin, alamat
tempat tinggal, nomor kontak, fakultas/jurusan, angkatan, motto hidup, dll.).
2. Riwayat pendidikan.
3. Pengalaman organisasi.
4. Keterampilan khusus yang dimiliki.
5. Pilihan aktivitas yang diminati.
6. Motivasi bergabung dengan LDK.
7. Tujuannya bergabung dengan LDK.
8. Tingkat pemahaman keislamannya secara umum.


3 hari menuju MUSYAR UNIMED XVII, hawa- hawa 'segarrr' nya mulai terasa.
-Ingat kawan, KITA ADALAH DA'I, maka berbicara, bersikap, dan berbuat lah layaknya seorang da'i-
:)

Mar 11, 2012

Prestasi dan Kontribusi


By: Nurhasanah Sidabalok
Staff Dept. RPK UKMI Ar- Rahman UNIMED 2011- 2012 

Berprestasi adalah impian setiap mahasiswa. Melihat nama di papan pengumuman mading sebagai pemenang lomba, peserta terbaik dalam sebuah event, delegasi kampus dalam acara kunjungan maupun perlombaan, pemenang PKM, mawapres  dan berbagai kemungkinan lainnya adalah saat yang ditunggu- tunggu. Satu lagi, pengumuman penerima beasiswa juga menjadi satu hal menarik di kalangan mahasiswa. hal- hal demikian dirasa menjadi prestasi yang akan memberikan motivasi lebih lagi untuk berkarya di masa yang akan datang serta upaya penokohkan diri.

Namun benarkah prestasi hanya dilihat dari pengumuman- pengumuman itu?
Seorang muslim juga tentu dituntut untuk berprestasi dalam hidupnya. Bagaimanakah seorang muslim memaknai kata prestasi? Dalam Islam, prestasi dikaitkan dengan amal soleh. Ketika seseorang mampu beramal soleh di sekelilingnya, maka saat itu pula dia dikatakan berprestasi. Dengan kata lain, dia melakukan sesuatu untuk orang lain dimana orang lain merasakan manfaat atas apa yang dia lakukan.

Karakter dasar seorang muslim adalah memberi manfaat kepada sesamanya, bukan berpangku tangan atau bersikap masa bodoh dengan kemampuannya, apalagi mencegah orang lain memberi manfaat. Terkait hal ini, sahabat Umar bin Khattab yang terkenal dengan ketegasannya mencela sikap Muhammad bin Maslamah yang melarang Dhahak bin Khalifah yang ingin membuat saluran air. Umar berkata,”Kenapa kamu menghalangi saudaramu untuk membuat sesuatu yang bermanfaat baginya dan bagimu juga, kamu bisa minum darinya dan itu tidak membahayakanmu?” (HR. Malik)

Jika kita lihat di sekeliling kita, masih banyak mahasiswa yang masih sibuk berpikir akan nilai tanpa memperhatikan manfaat yang bisa diberikannya pada orang lain. Terlalu asyik dengan dunianya sendiri tanpa mencoba sedikit memikirkan manfaat apa yang bisa orang lain rasakan darinya. “Sori deh, boro- boro bantuin dia, gue aja kewalahan”. Mungkin demikian jawaban beberapa teman yang ketika ditanyakan alasannya bersikap masa bodoh. Atau mungkin merasa rendah diri dengan kekurangannya, “Wah, mana ada yang bisa diandalkan dariku”. Kedua alasan itu hanyalah alasan yang dibuat- buat untuk menghindar dari sebuah tanggungjawab. Tidak inginkah kita sedikit berbagi dengan orang lain? Layakkah kita membatasi kemampuan diri sementara Tuhan kita telah memberikan banyak potensi pada kita? Sudahkah kita aktifkan seluruh tombol- tombol dari sisi kehidupan kita hingga bisa memberi kontribusi lebih?

Kita dituntut untuk berkontribusi, bukan hanya meminta kontribusi orang lain. Hal ini sejalan dengan didikan Rasulullah kepada para sahabat yang baru masuk Islam kala itu, yakni didikan berdakwah dengan semangat memberi kepada orang lain, semangat memfungsikan apa saja potensi yang dimiliki.

Status mahasiswa semoga tidak hanya sebatas status di KTM yang melayakkan kita mengikuti berbagai seleksi beasiswa dalam dan luar negeri, mempunyai hak untuk hidup nyaman dengan kucuran dana orangtua, ataupun berfoya- foya bersama teman kampus dengan alasan menikmati masa muda. Sesungguhnya kita harus lebih banyak berpikir akan apa yang bisa kita berikan dengan status mahasiswa yang kita punya. Saat ini ssudah kita pahami bersama, maka nilai bukan lagi menjadi orientasi utama kita untuk duduk di bangku perkuliahan. Namun yang menjadi titik tujuan kita adalah manfaat. Bukankah Rasulullah pernah bersabda,”Sebaik- baik kamu adalah yang paling bermanfaat diantaramu?

Jika kita berpikir nilai bagus kita akan mendongkrak nilai teman- teman kita juga, kenapa harus dapat nilai buruk?
Jika datang ke kampus lebih awal dan membantu teman yang kesulitan belajar, kenapa harus datang terlambat?
Jika singgah sebentar di mushola dan membuat saudara kita tersenyum, kenapa harus tergesa- gesa melewatinya?
Jika bergeser sedikit dari tempat duduk di dekat pintu angkot dan memudahkan penumpang lainnya untuk duduk nyaman, kenapa harus bertahan duduk di sana?
Jika berjalan dengan penuh semangat ceria dan membuat saudara kita merasa bahagia kenapa harus merengut?
Jika sesuatu itu baik dan bermanfaat, kenapa tidak kita kerjakan?

Saat mahasiswa berpikir seperti ini, maka tidak akan kita temukan lagi berbagai kebencian, permusuhan, ketakutan, kesedihan. Semua akan berupaya untuk menciptakan ketenangan dan memberikan solusi untuk masalah- masalah yang ada. Hingga mahasiswa menjadi leader opinion di tengah masyarakat dan saat itulah prestasi terbesar baginya.
Semoga bermanfaat. Salam kontribusi! (11/03san)

Mar 3, 2012

Hasan Al Bashri : Sang Pemberani Penyeru Kebenaran

Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan “maula” (pembantu wanita)-nya telah melahirkan seo¬rang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di rumahnya.

Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan penuh sukacita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan. “Sudahkah kau beri nama bayi ini, ya Khairoh?” tanya Ummu Salamah. “Belum ya ibunda. Kami serahkan kepada ibunda untuk menamainya” jawab Khai¬roh. Mendengar jawaban ini, ummahatul mu’minin berseri-seri, seraya berujar “Dengan berkah Allah, kita beri nama Al-Hasan.” Maka do’apun mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pembe¬rian nama.

Al-Hasan bin Yasar – atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-Basri, ulama generasi salaf terkemuka – hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal – sebelum Islam – sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di antara para isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubun¬gan antara Al-Hasan dengan keluarga Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber”uswah” (berteladan) pada ke¬luarga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada di masjid Nabawiy.

Ditempa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadist dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan sahabat-sahabat RasuluLlah lainnya. Al-Hasan sangat mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang demikian tinggi, kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu terpesona.
Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah kala itu terkenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah ilmu. Para sahabat dan tabi’in banyak yang sering singgah ke kota ini.Di Basrah, Hasan Al-Basri lebih banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqah-nya Ibnu Abbas. Dari beliau, Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmu fiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabat-sahabat yang lain. Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.
Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan Al-Basri banyak didatangi orang yang ingin belajar langsung kepadanya. Nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan Al-Basri makin harum dan terkenal, menyebar ke seluruh negeri dan sampai pula ke telinga penguasa.

Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat¬ terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritik atasnya atau menen¬tangnya. Hasan Al-Basri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di depan Al-Hajaj sendiri, Hasan Al-Basri pernah menguta¬rakan kritiknya yang amat pedas.

Saat itu tengah diadakan peresmian istana Al-Hajaj di tepian kota Basrah. Istana itu dibangun dari hasil keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan Al-Basri menyuarakan kritiknya terhadap Al-Hajaj: “Kita telah melihat apa-apa yang telah dibangun oleh Al-Hajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan kesombongannya …”
Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan Al-Basri, “Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!” Namun beliau menjawab, “Sungguh Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.”

Begitu mendengar kritik tajam tersebut, Al-Hajaj menghardik para ajudannya, “Celakalah kalian! Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak seo¬rangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!” .

Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati berge¬tar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang menghadapi Al-Hajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenan¬gan beliau. Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi sang tiran.

Melihat ketenangan Hasan Al-Basri, seketika kecongkakan Al-Hajaj sirna. Kesombongan dan kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan Al-Basri dan berkata lembut, “Kemarilah ya Abu Sa’id …” Al-Hasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semua mata memandang dengan kagum.
Mulailah Al-Hajaj menanyakan berba¬gai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab oleh Hasan Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaan¬nya dijawab dengan tuntas. Hasan Al-Basri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal Al-Hajaj bertanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan Al-Hajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?” Hasan Al-Basri menjawab, “Saat itu kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejuk dan keselamatan buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim.”

Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, “Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …”

Berkata Hasan Al-Basri, “Wahai Ibnu Hurairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid¬ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memelihara¬mu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya.” Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat Hasan Al-Basri yang sangat dalam itu.

Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110H, Hasan Al-Basri memenuhi panggilan Robb-nya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Pendu¬duk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan Al-Basri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong tak berpenghuni.

Feb 17, 2012

Seberapa Sehatkah Komunikasi Kita?

By: Nurhasanah Sidabalok
Staff Dept. RPK UKMI Ar Rahman UNIMED 2011- 2012

Di sudut kota, pukul 6 pagi… SMS

I: “Ukhti, hari ini  ada syuro’ Pentas Seni Budaya  Islam di masjid kampus pukul 7.00 wib. Anti bisa kan?”
A: “Kegiatan apa itu akh? Siapa yang ngadakan?”
I: “Kerjasama kita dengan Himpunan Mahasiswa Muslim Hukum. Afwan tidak membicarakan sebelumnya dengan akhwatnya, tapi kemarin keputusan ini butuh cepat.”
A: “Afwan, ana hari ini ada kelas jam 7.30 wib. Paling cepat syuro’nya dimulai jam 7.15 wib. Lagian ana gak bisa langsung ikut campur di acara ini. Perlu ana bicarakan dengan akhwat lain. (sedikit kecewa)
I: Ya udah kalau begitu. (sedikit merasa bersalah dan juga dongkol mungkin)
…… Dan Pentas Seni Budaya Islam berlangsung. Tanpa ruh, sepertinya. Masih ada keganjalan di hati kedua belah pihak. Hingga ia berpengaruh pada kinerja berikutnya yang sejatinya butuh kesamaan persepsi dan komunikasi yang lancar. Namun apa yang terjadi? Komunikasi seadanya. Lembaga yang dahulunya seperti rumah hangat para kader, ujung2nya hanya tempat persinggahan yang tidak sehat. Kader merasa asing dalam rumah sendiri, itulah terjadi.

Pernahkah  hal ini terjadi di ‘rumah’ kita? Tau kan apa akar masalahnya? Yaps, let’s see.

Pertama, kelompok ikhwan membuat keputusan mendadak. Ini memang kesalahan besar sepanjang sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. (gitu kata kawan2). Tidak hanya sekali, namun berkali- kali mereka buat keputusan seperti ini. Seolah akhwat hanya sebagai pem- follow up dan pelaksana atas kebijakan mereka. Tentu saja banyak yang protes.
 “Minimal SMS kek, atau apalah gitu, kata seorang akhwat.”
“Anti tau mendadak kan? Keputusan harus segera diberikan. Ana yakin kalaupun akhwatnya di SMS pasti tidak segera membalas. Lambat siih (dalam hati).”

Lambat. Yah, mungkin itu juga alasan mereka untuk mengambil keputusan dalam waktu singkat. Di samping kebutuhan akan keputusan yang sangat mendesak tentunya. Namun hal ini tidak bisa menjadi alasan utama bagi ikhwannya untuk mengambil keputusan sendiri. Komunikasi yang sehat harus sering dibangun antar kader. Sebaiknya jauh- jauh hari  hal itu sudah diwacanakan, jadi minimal akhwat sudah punya gambaran sedikit terkait kegiatan yang akan dilaksanakan.
Satu hal yang harus kembali ditanamkan pada diri ikhwan bahwa akhwat punya peran besar dalam keberlangsungan agenda- agenda dakwah walau yang selalu berdiri di depan adalah para ikhwannya. Bukankah behind the scene itu punya efek yang luarbiasa?
Kedua, akhwat terlalu sensitif hingga tidak sempat melihat dari sisi lain. Berbagai praduga dan citra negatif tentang ikhwan sudah terbentuk dalam pikiran mereka. Ikhwan egois. Itulah yang akhirnya mereka simpulkan.  

Bukankah kita dianjurkaan untuk berhusnudzon? Atau  mentang2 sama ikhwan gak bisa berprasangka baik, gitu? Ini adalah satu senjata jitu untuk memperbaiki hubungan kita. Bayangkan apa yang terjadi jika dalam satu keluarga saling mencurigai dan berprasagka buruk satu sama lain. Tentu output dan kerja2 yang dilakukan tidak maksimal. Esensi dari kerja2 tersebut tidak akan didapatkan. Hingga tidak jarang acara demi acara berakhir hanya menyisakan lelah dan payah. (atau hutang mungkin).

 Jadi himbauan kepada seluruh akhwat agar tetap mengedepankan husnudzon dalam menanggapi satu persoalan. Hilangkan pikiran2 negatif yang hanya akan memperlambat gerak kita. Jika memang ada yang kurang pas di hati, sampaikan dengan cara yang ahsan, syuro’ mungkin atau via media lainnya jika memang tidak memungkinkan bicara langsung. 

Hingga disimpulkan:
Sejarah memang berulang. Hal seperti ini sudah pernah terjadi juga di tahun- tahun sebelumya. Komunikasi yang baik adalah akar penyelesaian dari semuanya. Itu juga alasannya kenapa banyak media komunikasi yang hari ini disuguhi kepada kita. Tidak lain dan tidak bukan agar kita bisa menciptakan komunikasi yang sehat satu sama lain. Bukan hanya kinerja kita yang akan membaik lewat komunikasi yang sehat ini, namun juga kondisi hati kita juga akan semakin sehat. Tidak akan ada lagi prasangka- prasangka buruk yang menambah titik hitam di hati kita. Tidak akan ada lagi wajah- wajah kusut nan kusam memikirkan sikap saudara kita yang tiba- tiba berubah. Komunikasikan! Hingga kesalahan- kesalahan yang sama tidak terjadi berulangkali dan semua kita menikmati perjalanan dakwah ini

Selamat datang di rumah hangat kita, Lembaga Dakwah Kampus! (18/02san)