Pages

Showing posts with label Dakwah Kampus. Show all posts
Showing posts with label Dakwah Kampus. Show all posts

Jul 31, 2012

Ramadhan Ala ADK (Aktivis Dakwah Kampus)




Semua bergembira menyambut kedatangan bulan mulia. Tua- muda, miskin- kaya, berkeluarga- single, orang desa- orang kota, kulit hitam- kulit putih, dan semua dengan karakter yang berbeda yang dimiliki menghadirkan sejuta senyum untuk sebuah tamu agung. Berbagai persiapan dilakukan untuk mendapatkan semua bonus yang menggiurkan di event tahunan terbesar ini. Tak terkecuali ADK (Aktivis Dakwah Kampus). Bagaimana para ADK menyambut dan menjalani Ramadhan, secara mereka dikenal dengan seabrek kegiatannya?

Ramadhan tahun ini bersamaan dengan pendaftaran ulang mahasiswa baru dan segala tetek- bengek yang berkaiatan dengan mahasiswa baru, regular maupun ekstensi. Seperti tahun- tahun sebelumnya, ADK telah merancang berbagai program kegiatan khususnya kepada mahasiswa baru. Mulai dari pelayanan daftar ulang melalui proses yang tidak sebentar, sosialisasi KRS, hingga ke acara PAMB yang diusung oleh pemerintahan mahasiswa bekerjasama dengan UKM. Tidak hanya itu, mengingat penerimaan mahasiswa baru bersamaan dengan Ramadhan, maka momen ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Kajian Ramadhan dan temu ramah yang bersifat kekeluargaan tampaknya menjadi santapan segar bagi mahasiswa baru yang sebagian besar berasal dari luar daerah.

Tidak bisa dielakkan. Tersitanya waktu dan pikiran untuk mengurus kegiatan- kegiatan itu menjadi resiko  bagi seorang ADK. Ramadhan tidak lagi bersama dengan keluarga mengingat banyaknya agenda yang harus dipikirkan dan disyuro’kan bersama yang lain. Ramadhan yang mestinya adalah saat- saat memuncaknya semangat ibadah serta teralokasikan waktu untuk memperbanyak tilawah, hafalan, serta amalan sunnah lainnya, namun ADK punya tanggung- jawab lain. Hingga di sana sini terjadi ketimpangan. Target tilawah tak lagi tercapai, shalat sunnah tidak ada yang meningkat dari bulan biasa, shalat tarawih dengan setengah mata terpejam, bibir yang kering dari dzikir, serta keadaan memperihatinkan lainnya. 

Beginikah seorang ADK memperlakukan Ramadhan? Kita akhirnya tersadar. Bukan. Bukan begini. Lalu kita ingin salahkan agenda- agenda ini? Tidak. Tidak seharusnya begitu. Lalu, siapa yang bertanggungjawab atas ketidakmaksimalan ibadah ADK di bulan Ramadhan?

Hadirkan ADK Berdisiplin
ADK sudah tertarbiyah. Itu yang sama- sama telah kita pahami. Mengenai jangaka waktunya, tidak perlu kita permasalahkan. Siapa yang mentarbiyah (murabbi) dia, bukan menjadi urusan kita. Bagaimana keaktifan tarbiyah dia, ini juga tidak perlu kita bahas di sini.

Tidak berlebihan, ADK sepatutnya mampu memahami Ramadhan lebih dari mereka yang tidak tertarbiyah. Keseharian ADK yang bergumul dengan agenda seyogyanya menjadi nilai plus bagi mereka ketika dipertemukan dengan Ramadhan. Kondisi ADK yang telah dipaparkan diatas menjadi satu hal yang patut kita soroti bersama untuk menghadirkan ADK yang agenda dakwahnya berjalan lancar serta ruhiyahnya juga meningkat kualitasnya.

Jauh- jauh hari tarbiyah telah mengajarkan kita tentang disiplin. Bahkan dalam kehidupan sehari- hari, shalat yang kita dirikan sudah membantu kita untuk menjadi pribadi yang disiplin. Agenda dakwah terus beruntun seolah- olah enggan melihat kita nyantai barang sebentar. Semuanya ingin diperhatikan ketika orang yang diharapkan untuk memberikan perhatian ternyata tidak seberapa. Maka terjadilah atraksi sikut sana- sikut sini, pegang ini- pegang itu. Lantas atas kondisi ini, relakah jika ibadah kita yang terkorbankan? Tentu saja tidak.

Untuk itu, perlu ada perhatian khusus berkaitan dengan kondisi yang menimpa ADK ini. Persiapan individu adalah senjata yang paling ampuh. ADK hendaknya mampu menunjukkan efek dari kedisiplinan shalat wajibnya dalam menjalankan berbagai agenda dakwah. Perlu adanya manajeman yang baik untuk mengatur semua agenda yang tidak sedikit dengan berbagai targetan amalan di bulan Ramadhan. Keseriusan dari ADK untuk tidak menzhalimi siapapun dan apapun atas ketidakdisiplinannya. Keyakinan yang kuat akan kemampuan diri menghandle  semua itu adalah kekuatan terbesar. 


Ramadhan ala ADK bukan hanya hadirnya dalam setiap pelayanan mahasiswa baru, namun juga hinggapnya rasa cinta pada saudaranya seiman.
Ramadhan ala ADK bukan hanya diisi dengan syuro’ membahas program kerja, namun juga diiringi dengan peningkatan jumlah tilawah.
Malam Ramadhan ala ADK tidak hanya disibukkan dengan konsepan acara yang akan diadakan dalam openhouse,  namun juga kekhusyukan berkhalwat dengan Rabbnya.
Siang Ramadhan ala ADK bukan hanya membicarakan targetan rekrutmen periode ini, namun juga upaya penggalangan dana untuk saudaranya yang ditimpa musibah (Padang dan Rohingnya semoga dilindungi Allah).
Ramadhan ala ADK bebas dari menggunjing.
Ramadhan ala ADK saatnya menjalin ukhuwah yang indah.
Ramadhan ala ADK tularkan semangat ibadah pada saudaranya.
Ramadhan ala ADK, BEDA!
 Kepada pengurus UKMI Ar- Rahman UNIMED: “Selaraskan dakwah dan tilawah”!

*Mahasiswa B. Inggris UNIMED, Pengurus UKMI Ar- Rahman 


Jul 6, 2012

Lalu Aku, Siapa yang Perhatikan???


Oleh: Nurhasanah Sidabalok

Staff Dept. RPK UKMI Ar- Rahman UNIMED 2012/ 2013

Roda arus kepemimpinan terus berputar, berirama. Roda ini pula yang entah sengaja atau tidak mengantarkanku pada terminal sepi ini. Menanti. Aku dan beberapa penumpang lainnya celingak- celinguk, bus mana yang akan mengangkut kami? Siapa yang akan menyetir perjalanan kami? Kemana kami akan dibawa pergi? Dengan tertatih dan mencoba memberanikan diri, kami susuri jalan. Bus tumpangan tak kunjung datang. Takut- takut kami melangkah, takut salah. Hingga kami sampai ke satu tempat, masih linglung. Benarkah jalan yang kami ambil tadi? Inikah memang tempat tujuan kami? Tak satupun yang bisa menjawab,’ ya mungkin’, ‘eh tapi sepertinya bukan’. Tidak ada kepastian. Hingga kami putuskan untuk tetap berjalan, berharap ada cahaya di sana. Tak jarang kami terpeleset, terjerembab, dan sering pula kami terperangkap dalam satu jebakan yang indah luarnya. Tapi kami seolah tidak punya pilihan lain. Terus berjalan sambil menyemangati diri berucap lirih, Harapan Itu Masih Ada.

Sekelumit kisah tadi menggambarkan kondisiku hari ini. Aku serasa berada diantara orang yang linglung, kepayahan.
Ingin rasanya aku kembali ke masa lalu. Saat dimana aku mendapat perhatian penuh. Hingga tidak jarang aku yang sedikit nakal menghindar dari tatapan sayang, rangkulan manja. Kini aku tidak berani menanti. Bayangkan, menanti pun aku tak berani lagi. Menanti hal seperti itu bakal hadir kembali dalam perjalanan dakwah ini rasanya hanya satu kemustahilan. Aku berjalan bersama satu dua orang dengan amanah di pundak. Berat. Untuk sedikit tertawa saja rasanya tidak ada waktu yang tepat. Saat ingin bersenang- senang sebuah pesan singkat dan tidak jarang panggilan telepon mengusikku. Bolehkah aku istirahat sebentar?
 Aku harus memperhatikan adik- adik, membimbing, dan parahnya aku harus bisa menjadi teladan. Apa yang harus kuturunkan pada mereka, haaah?
Jika ditanya aku tidak jauh lebih pintar dari mereka. Aku pun merasa tidak dibelajarkan penuh dahulunya, dan sekarang ingin mengajarkan? Bagaimana? Haah, aku pun yakin adik- adik mengatahui kelemahan dan keterbatasanku ini. Bisa jadi bertanya padaku hanyalah ingin menjaga perasaanku sebagai senior untuk menanyakan sedikit pendapat, tidak lebih.

Aku menjalani profesiku ini dengan tertekan, ada yang peduli? Tugas kuliah sudah tidak terkondisikan, teman- teman sekelas mulai tidak paham dengan alur pikiranku yang bercabang- cabang, hak mata dan tubuh mulai tak terpenuhi, dan aku nyaris tidak mengenali diriku sendiri. Haruskah aku bertahan dengan topeng ini? Atas semua kejadian ini, ada yang bertanggung- jawab?
Yang lain butuh perhatianku, lalu aku? Siapa yang perhatikan?
Baik, salahkan aku yang tidak belajar maksimal kala itu, tapi hanya salahku? 

Dimana qiyadah- qiyadah yang memberiku amanah ini?  Ya, walau katanya amanah ini dari Allah namun kan mereka harus bertanggung- jawab. Aku tidak merasakan pembelajaran dari mereka. Mereka pikir aku paham menjalankan ini semua? Hei, aku tidak secerdas yang kalian bayangakan. Aku dengan senyum yang sering kuuntai hanya mencoba menghibur diri sendiri, tidak lebih. Beban ini berat, aku tidak sanggup. Dan aku pun tidak pernah digembleng tuk diarahkan menerima amanah ini. Lalu aku bergerak hari ini dengan bahan bakar yang pas- pasan, salah siapa?
Mereka katanya punya urusan yang lebih besar dari sekadar mengurusiku. Ya, kalian punya banyak amanah. Namun, beginikah seorang kakak/ abang memperlakukan adiknya?

Kalian tahu, aku seringkali takut melangkah. Masih sering aku bertanya, memang beginikah yang ada dalam sistem? Atau apakah aku sudah merusak sistem yang ada? Saat aku tanyakan pada kalian, yang kuterima hanya anggukan dan jawaban singkat. Tidak adakah segelas air yang bisa kalian bagi untukku yang haus? Haus sekali, dan lapar. Ataukah kalian juga belum paham sistem dalam dakwah ini?
Namun saat kutanyakan pada qiyadah yang lain, aku tidak diizinkan berbuat. Ada banyak sekali peraturan- peraturan yang diberikan hingga aku semakin enggan untuk melangkah, apalagi berlari. Hingga aku berjalan di tempat menunggu bola datang. Pasrah.

Dimana pula murabbiku? Mereka bilang murabbi adalah guru, sahabat, abang/ kakak, dan bisa jadi seperti orangtua. Aku tidak yakin bahwa kalian sudah merasakan hal itu. Bisa jadi itu hanya pemanis di bibir saja agar aku terus bertahan di sini. Mereka bilang murabbi tempat curhat, apa? Aku tidak punya kesempatan untuk sedikit bercerita. Semua kami seolah diburu padatnya agenda sebelum dan sesudah halaqah. Ya, aku dan teman- teman sering terlambat kuakui. Tapi setelah itu? Berjalan datar. Tidak ada yang special. Murabbi pun tampaknya sangat sibuk. Kembali, aku harus menelan ludah. Pahit. Kuurungkan niat untuk sedikit berbagi cerita, tentang ibu yang sakit. Tidak ada khobar. Seolah halaqah hanya agenda rutin yang tak bermakna. Aku harus mengalah, ya murabbiku sibuk menyelesaikan tugas akhirnya. SKRIPSI.

Dimana teman- teman yang dahulu berikrar setia dalam suka dan duka? Mereka sibuk dengan urusan masing- masing dan aku tertinggal jauh di belakang untuk urusan yang itu. Lagi- lagi, aku mengalah. Pertanyaan- pertanyaan kabar yang kuterima lewat HP seolah tidak punya ruh. Aku pun tidak berniat untuk membalas. Hingga taujih- taujih yang menghiasi inbox tak mampu mengusir kekesalanku. Aku ingin kalian ada di sampingku, hanya itu. Tidak pahamkah kalian perasaan ini? Aku ingin kita sama- sama membuat keputusan- keputusan ini. Tidakkah kalian tahu bagaimana keterbatasan pemikiranku? Aku tak secerdas kalian. Banyak keputusan yang salah yang kuperbuat. Inginkah kalian aku terjatuh ke jurang ini terus? Aku melihat kalian sangat kritis, lha aku? Tuk hal kecil saja aku butuh banyak jam untuk memberi satu tanggapan.
Lalu, siapa yang perhatikan aku?


Sejenak aku terdiam. Menangis. Aku bahkan lupa kapan terakhir tilawah 1 juz ku perhari dan kapan terakhir kali aku jalan berdua bersama ayah.

Akhi wa ukhti fillah, kondisi ini bisa jadi akan kita rasakan juga. Saat ia mulai mendekat, yuk sama- sama periksa kondisi ibadah kita. Dari apa yang dipaparkan di atas, ternyata di ending kisahnya, sang ‘ aku’ sadar bahwa dia sudah jauh dari kebiasaan- kebiasaan baiknya. Amalan yang semakin berkurang dan silaturahmi yang tidak lagi kencang. Allah lah tempat kita mencurahkan segala isi hati. Get closer to Allah, yuk mari!

Spesial, kepada adik- adik pengurus UKMI Ar- Rahman Periode 2012- 2013.....
Beezzzzzzzzzzzzzzzzzzz
Yuk, berbuat lebih tanpa menuntut lebih. 
You, CAN!


May 30, 2012

Rekrutmen Berkualitas dan Berkuantitas


       Staff Dept. Rekrutmen dan Pembinaan Kader 
       UKMI Ar- Rahman UNIMED 2011- 2012

Peningkatan kualitas kader harus diimbangi dengan peningkatan kuantitas. Tidak dipungkiri bahwa ketika suatu LDK memiliki kader yang cukup loyal dan punya kemampuan dalam tiga ranah dakwah (da’awiy, siaysih, ilmy), namun jumlahnya sangat sedikit tentu manajemen perencanaan- perencanaan organisasi akan mengalami hambatan. Akan terjadi kekurangan pementor, kekurangan massa, kekurangan dukungan. Memahami hal ini, rekrutmen yang berkualitas menjadi satu harapan besar bagi keberjalanan dakwah di seantero kampus.


Untuk memenuhi kebutuhan kader, LDK dapat menjalankan dua mekanisme rekrutmen, yaitu  masif dan personal.
Rekrutmen masif adalah adalah rekrutmen terbuka bagi seluruh mahasiswa muslim di kampus yang dapat berupa kegiatan- kegiatan syi’ar. Sedangkan rekrutmen personal adalah rekrutmen yang dilakukan secara langsung oleh formatur LDK dan pengurus LDK, atau bahkan oleh kader-kader LDK terhadap individu-individu tertentu yang dianggap memiliki kecenderungan kepada Islam dan memiliki potensi yang besar untuk dakwah. Perekrutan secara personal ini dapat diikuti oleh proses pembinaan saja atau pun sekaligus menempatkannya pada struktur LDK jika dirasa perlu dan standar kepribadian dan kompetensinya telah terpenuhi.

Salah satu parameter berhasilnya kaderisasi adalah terbentuknya kader- kader dengan kapasitas yang ditargetkan secara konkret. Untuk itu, demi terciptanya LDK yang mandiri, profesional, dan regeneratif maka perlahan-lahan setiap LDK diharapkan mampu menghasilkan kader-kader inti secara mandiri melalui alur kaderisasi yang dijalankannya. LDK harus mampu berperan sebagai “kawah candradimuka” yang dapat mentransformasi individu-individu yang pada awalnya belum memiliki kompetensi apa-apa menjadi individu-individu yang memiliki kompetensi keislaman yang tinggi, profesional, intelek, dan siap terjun di lapangan.

Teknis : Langkah-langkah Rekrutmen Massif
Dalam melakukan rekrutmen masif, secara teknis dapat mengikuti prosedur berikut.
a.    Sosialisasi LDK
Tujuan:
-       Mengenalkan LDK kepada seluruh civitas akademika kampus.
-       Menarik minat seluruh civitas akademika kampus khususnya
mahasiswa/i muslim/ah untuk bergabung dengan LDK.

b.      Publikasi rekrutmen
Tujuan:
-       Memberikan informasi kepada seluruh civitas akademika kampus bahwa LDK mengadakan rekrutmen untuk seluruh civitas akademika kampus.

c.    Penyebaran dan pengembalian formulir rekrutmen dan isian biodata calon kader
Tujuan:
-       Mengumpulkan data awal calon kader.
-       Mengenali karakteristik calon kader (biodata singkat, pengalaman organisasi, motivasi bergabung dengan LDK, keterampilan khusus yang dimiliki, pilihan aktivitas yang diminati).

4. Pengolahan data calon kader
Tujuan:
-       Mendapatkan gambaran umum tentang karakteristik calon kader LDK.
-       Mendapatkan database calon kader.

5. Wawancara calon kader (opsional)
Tujuan:
-       Mengenali calon-calon pengurus secara baik dan lebih mendalam (pemahaman keislamannya, harapan-harapannya terhadap LDK, motivasinya, pilihan aktivitas yang diminatinya kelak jika bergabung dengan LDK, tingkat komitmennya dengan dakwah, pengalaman organisasinya, gaya kerjanya, tingkat pengetahuannya terhadap amanah yang akan dijalankannya, konsep diri dan manajemen pribadinya).
-       Memasukkan kader ke dalam kelompok-kelompok pembinaan yang sesuai.

6. Publikasi pengurus
Tujuan:
-       Menginformasikan kader-kader LDK baru yang akan menjalani alur kaderisasi kepada civitas akademika kampus.

Hal-hal penting yang perlu digali dari calon kader pada saat proses
rekrutmen, setidaknya adalah:
1. Data diri calon kader (nama, tempat/tanggal lahir, jenis kelamin, alamat
tempat tinggal, nomor kontak, fakultas/jurusan, angkatan, motto hidup, dll.).
2. Riwayat pendidikan.
3. Pengalaman organisasi.
4. Keterampilan khusus yang dimiliki.
5. Pilihan aktivitas yang diminati.
6. Motivasi bergabung dengan LDK.
7. Tujuannya bergabung dengan LDK.
8. Tingkat pemahaman keislamannya secara umum.


3 hari menuju MUSYAR UNIMED XVII, hawa- hawa 'segarrr' nya mulai terasa.
-Ingat kawan, KITA ADALAH DA'I, maka berbicara, bersikap, dan berbuat lah layaknya seorang da'i-
:)

Feb 17, 2012

Seberapa Sehatkah Komunikasi Kita?

By: Nurhasanah Sidabalok
Staff Dept. RPK UKMI Ar Rahman UNIMED 2011- 2012

Di sudut kota, pukul 6 pagi… SMS

I: “Ukhti, hari ini  ada syuro’ Pentas Seni Budaya  Islam di masjid kampus pukul 7.00 wib. Anti bisa kan?”
A: “Kegiatan apa itu akh? Siapa yang ngadakan?”
I: “Kerjasama kita dengan Himpunan Mahasiswa Muslim Hukum. Afwan tidak membicarakan sebelumnya dengan akhwatnya, tapi kemarin keputusan ini butuh cepat.”
A: “Afwan, ana hari ini ada kelas jam 7.30 wib. Paling cepat syuro’nya dimulai jam 7.15 wib. Lagian ana gak bisa langsung ikut campur di acara ini. Perlu ana bicarakan dengan akhwat lain. (sedikit kecewa)
I: Ya udah kalau begitu. (sedikit merasa bersalah dan juga dongkol mungkin)
…… Dan Pentas Seni Budaya Islam berlangsung. Tanpa ruh, sepertinya. Masih ada keganjalan di hati kedua belah pihak. Hingga ia berpengaruh pada kinerja berikutnya yang sejatinya butuh kesamaan persepsi dan komunikasi yang lancar. Namun apa yang terjadi? Komunikasi seadanya. Lembaga yang dahulunya seperti rumah hangat para kader, ujung2nya hanya tempat persinggahan yang tidak sehat. Kader merasa asing dalam rumah sendiri, itulah terjadi.

Pernahkah  hal ini terjadi di ‘rumah’ kita? Tau kan apa akar masalahnya? Yaps, let’s see.

Pertama, kelompok ikhwan membuat keputusan mendadak. Ini memang kesalahan besar sepanjang sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. (gitu kata kawan2). Tidak hanya sekali, namun berkali- kali mereka buat keputusan seperti ini. Seolah akhwat hanya sebagai pem- follow up dan pelaksana atas kebijakan mereka. Tentu saja banyak yang protes.
 “Minimal SMS kek, atau apalah gitu, kata seorang akhwat.”
“Anti tau mendadak kan? Keputusan harus segera diberikan. Ana yakin kalaupun akhwatnya di SMS pasti tidak segera membalas. Lambat siih (dalam hati).”

Lambat. Yah, mungkin itu juga alasan mereka untuk mengambil keputusan dalam waktu singkat. Di samping kebutuhan akan keputusan yang sangat mendesak tentunya. Namun hal ini tidak bisa menjadi alasan utama bagi ikhwannya untuk mengambil keputusan sendiri. Komunikasi yang sehat harus sering dibangun antar kader. Sebaiknya jauh- jauh hari  hal itu sudah diwacanakan, jadi minimal akhwat sudah punya gambaran sedikit terkait kegiatan yang akan dilaksanakan.
Satu hal yang harus kembali ditanamkan pada diri ikhwan bahwa akhwat punya peran besar dalam keberlangsungan agenda- agenda dakwah walau yang selalu berdiri di depan adalah para ikhwannya. Bukankah behind the scene itu punya efek yang luarbiasa?
Kedua, akhwat terlalu sensitif hingga tidak sempat melihat dari sisi lain. Berbagai praduga dan citra negatif tentang ikhwan sudah terbentuk dalam pikiran mereka. Ikhwan egois. Itulah yang akhirnya mereka simpulkan.  

Bukankah kita dianjurkaan untuk berhusnudzon? Atau  mentang2 sama ikhwan gak bisa berprasangka baik, gitu? Ini adalah satu senjata jitu untuk memperbaiki hubungan kita. Bayangkan apa yang terjadi jika dalam satu keluarga saling mencurigai dan berprasagka buruk satu sama lain. Tentu output dan kerja2 yang dilakukan tidak maksimal. Esensi dari kerja2 tersebut tidak akan didapatkan. Hingga tidak jarang acara demi acara berakhir hanya menyisakan lelah dan payah. (atau hutang mungkin).

 Jadi himbauan kepada seluruh akhwat agar tetap mengedepankan husnudzon dalam menanggapi satu persoalan. Hilangkan pikiran2 negatif yang hanya akan memperlambat gerak kita. Jika memang ada yang kurang pas di hati, sampaikan dengan cara yang ahsan, syuro’ mungkin atau via media lainnya jika memang tidak memungkinkan bicara langsung. 

Hingga disimpulkan:
Sejarah memang berulang. Hal seperti ini sudah pernah terjadi juga di tahun- tahun sebelumya. Komunikasi yang baik adalah akar penyelesaian dari semuanya. Itu juga alasannya kenapa banyak media komunikasi yang hari ini disuguhi kepada kita. Tidak lain dan tidak bukan agar kita bisa menciptakan komunikasi yang sehat satu sama lain. Bukan hanya kinerja kita yang akan membaik lewat komunikasi yang sehat ini, namun juga kondisi hati kita juga akan semakin sehat. Tidak akan ada lagi prasangka- prasangka buruk yang menambah titik hitam di hati kita. Tidak akan ada lagi wajah- wajah kusut nan kusam memikirkan sikap saudara kita yang tiba- tiba berubah. Komunikasikan! Hingga kesalahan- kesalahan yang sama tidak terjadi berulangkali dan semua kita menikmati perjalanan dakwah ini

Selamat datang di rumah hangat kita, Lembaga Dakwah Kampus! (18/02san)

Dec 19, 2011

Amanah Dakwah: Beban VS Bekal

By: Nurhasanah Sidabalok
Staf  Dept. RPK UKMI Ar- Rahman UNIMED 2011- 2012

“Bapak kamu tukang cat ya?”
“Kok tau?”
“Karena kamu telah membuat hatiku lebih berwarna”
Cuit… cuit…

Demikian rayuan gombal yang sedang marak kita dengarkan di kalanga kaum muda saat ini. Tidak ada yang salah. Hanya ingin mendapatkan sebuah senyuman dari seorang sahabat. Senyum yang seolah sudah sangat sulit untuk ditemukan di saat seperti ini. Senyum yang sudah direbut sang agenda- agenda dan dibawa pergi jauh. Senyum yang seakan- akan bukan saatnya lagi dimunculkan di tengah- tengah amanah dakwah yang dibawa. Hingga tak jarang tanpa disadari banyak orang- orang terdekat mulai menjauh satu persatu.


Dakwah kampus butuh pengorbanan. Ia sifatnya dinamis, hingga selalu ada tuntutan- tututan baru untuk para kader dakwah. Bukan hal yang aneh jika seseorang yang sejak bergabung di dakwah kampus, banyak yang merasa ditinggal. Artinya, waktu yang kita miliki akan semakin terbagi hingga masing- masing bagian harus rela memberikan sebagain porsinya untuk dakwah ini. Yang menjadi aneh adalah ketika seseorang tidak merasakan perubahan itu hingga ia jauh melangkah dalam agenda dakwahnya. Jadi satu pemahaman yang harus kita samakan adalah bahwa berhubungan dengan dakwah kampus akan membuat warna dan perjalanan hidup kita akan berbeda dari yang lain. Terlepas perbedaannnya itu seperti apa, itu disesuaiakan dengan posisi kita sebagai apa pada awalnya dan masa sekarang. 

Berangkat dari pemahaman tersebut, tentu bukan suatu alasan untuk kemudian menyalahkan dakwah ini atas berbagai perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Tersitanya banyak waktu, terkurasnya pikiran, adalah lumrah. Selanjutnya, apakah kita akan membiarkan semua amanah ini merenggut masa muda kita??? (ckckck). Relakah kita jika kebahagiaan yang selama ini kita rasakan dibawa pergi olehnya? Padatnya agenda bukan selanjutnya membolehkan kita untuk mengurangi tegur sapa, senyum kepada saudara kita serta menayakan kabar mereka. Bukan demikian yang diharapkan. Sungguh dakwah ini terlalu suci untuk kita cemari dengan pemahaman yang sangat berseberangan. Tidak layak. Sungguh kerdil  diri kita jika demikian cara kita menjalankan dakwah ini. So, how? Bagaimana langkah yang harus kita ambil hingga dakwah ini tidak serta merta merenggut masa muda kita yang katanya untuk bersenang- senang? Hingga kita juga mampu merasakan apa yang orang lain rasakan di luar sana? 

Sebagai seorang aktivis dakwah kampus yang cerdas dan soleh, tentunya kita harus mampu untuk menentukan sikap dan mengambil langkah yang tepat. Jika dihadapkan pada situasi demikian dimana amanah terasa berat, bukan pilihan yang tepat untuk kemudian mengorbankan senyuaman kita yang selama ini berkilau. Yang perlu dilakukan adalah upaya mempersiapkan diri menerima amanah dan kemudian meningkatkan kemampuan dalam menjalankan amanah. Bentuk konkritnya dapat diperhatikan sebagai berikut.

Pertama, memahami konsep dakwah seutuhnya. Saat kita paham akan hakikat dakwah sebenarnya, maka proses ini tidak kemudian menciutkan langkahnya. Perubahan- perubahan yang kita alami dalam hidup sejak bergabung di dakwah ini akan dipandang sebagai hal yang wajar. Saat paham bahwa dakwah itu tidak ditaburi oleh bunga- bunga melainkan penuh onak duri dan rintangan, kita akan menanggapinya sebagaimana seorang kader seharusnya bersikap. Hingga amanah dakwah tidak dianggap menjadi beban yang berat dan tak berarti, namun dipandang sebagai lading amal dan investasi. 

Untuk itu, sering- seringlah mengikuti kajian- kajian keislaman seperti tasqif, keputrian, atau bentuk forum lainnya. Satu hal yang sangat disayangkan adalah banyaknya kader (pengurus, red) yang merasa dirinya tidak perlu lagi untuk mengikuti suplemen- suplemen untuk anggota baru, dengan alasan sudah pernah atau ada hal lain yag sengaja dijadikan alasan untuk tidak mengikutinya. Perlu kita pahamai bersama bahwa, materi yang sama jika disampaikan oleh orang berbeda pada waktu dan tempat yag berbeda hasilnya akan berbeda. Untuk itu perlu kembali kita bangun rasa ingin tahu dan rendah hati untuk duduk belajar bersama dengan mereka yang bukan pengurus. Jadilah pembelajar sejati!

Kedua, berbagi dengan kader lain. Sekilas mungkin akrab, namun ternyata jauh. Tegur sapa, salam, ternyata belum cukup menjadi bukti nyata kedekatan kita. Serng- seringlah berdiskusi! Satu permasalahan klasik yang masih juga ditemukan di lapangan bahwa ada beberapa kader yang merasa enggan untuk bertanya atau sekadar berbagi kabar dengan yang lain. Sebut saja misalnya dengan kakak/ abangnya. Apakah itu mungkin tak sempat, tak pantas, atau mungkin tak tau apa yang ingin ditanyakan atau dibagikan. 

Budaya berdiskusi hendaknya lebih digalakkan sebagai cirri khas dari para aktivis dakwah kampus. Tidak dipungkiri, efek yang dihasilkan dari budaya ini sangat luar biasa tertama dalam pengokohan eksistensi. Hal ini dapat menjadi keuatan bagi diri kita untuk saatnya menanmkan satu statement: saya tidak sendiri. Kita pribadi juga akan paham bahwa amanah yang kita miliki ternyata belum seberapa dibandingkan amanah saudara yang lain. Sehingga buka suatau alasan untuk kita menemui saudara kita dengan kerutan di wajah disertai goresan- goresan amanah di dahi.

Ketiga, mendekatkan diri kepada- Nya. Saat amanah diberikan pada kita, satu hal yang harus segera dipahamai dan dimaknai adalah, amanah ini datangnya dari Allah, bukan dari Koord. Dept. Kaderisasi, Ketua Umum, atau murabbi dan sebagainya. Jika ini sudah terpatri jelas dalam hati kita, maka ia akan mengantarkan kita pada suatu upaya untuk melayakkan diri menerima amanah tersebut di hadapan- Nya. Selanjutnya, ia akan menjadikan diri kita sosok yang produktif, bukan malah di kemudian hari berkata,”Nah kan, siapa suruh ana diberikan amanah ini. Sudah ana bilang gak sanggup tetap saja dipaksa.”

Bertaqarrub kepada Allah akan membantu kita dalam menjalankan amanah ini. Seberapapun maksimalnya usaha kita jika tidak dibarengi  dengan rasa harap dan butuh akan bantuan- Nya, akan sult bagi kita untuk mencapai target- targetnya.

Akhirnya, dakwah adalah satu kebutuhan bagi kita untuk memperbanyak bekal di hari akhir nanti. Amanah dakwah tidak layak untuk dianggap sebagai beban. Ia akan menjadikan kita lebih dewasa. Lebih mampu mengambil langkah, lebih bijaksana. Amanah ini hanya akan bisa dijalankan dengan baik jika kita memiliki ilmu, jika kita paham hakikat dakwah, jka kita dekat dengan Sang Pemberi amanah. Amanah ini tidak harus dibawakan dengan raut wajah tegang dan penuh goresan agenda. Pemahaman ini akan mengantarkan kita pada hari- hari yang indah dalam menjalankan amanah, tanpa harus merusak kebahagiaan orang lain. Semoga bermanfaat. (20/12san)

Aug 15, 2011

SUSUNAN KEPENGURUSAN UKMI AR- RAHMAN FBS 2011- 2012

SUSUNAN KEPENGURUSAN UKMI AR- RAHMAN FBS 2011- 2012

Leko Muhayya Koordinator FBS/P. Seni rupa/2010
Justianus Tarigan Sekretaris FBS/P. B. Indo/2010
Widya Sari Lubis Bendahara FBS/P. B. Jer/ 2010

Departemen Rekruitmen dan Pembinaan Kader (RPK)

Irwan Syahputra Koordinator FBS/B. Ing/2010
Melda Febrianti Sekretaris FBS/ B. Jer/ 2010
Muhammad Yusuf Staff FBS/ Sendratasik/2010
Mukhlis Al-Anshor Staff FBS/B. Indo/2010
Karmila Sari Ritonga Staff FBS/ B. Ing/ 2010
Aisyah Staff FBS/ B. Jer/ 2010

Departemen Syi’ar dan Pelayanan Kampus (SPK)

Ali Muis Dongoran Koordinator FBS/B. Ing/2010
Ade Triwanna Lubis Sekretaris FBS/ B. Jer/ 2010
Eka Brenta Sembiring Staff FBS/B. Indo/2010
Ryan Dalion Staff FBS/B. Jer/2010
Winda Sriana Staff FBS/ B. Ind/ 2010
Ida Marohana Staff FBS/ Seni Tari/ 2010
Dewi Apriani Staff FBS/ B. Ind/ 2010
Suci Muslihani D. Staff FBS/ B. Ing/ 2010
Sakinah Annisa Mariz Staff FBS/ B. Ind/ 2010
Ulfa Zaini Staff FBS/ B. Ind/ 2010
Siti Nurhayati Staff FBS/ S. Ing/ 2010

Departemen Keputrian

Nurwidasari Lubis Koordinator FBS/ B. Ind/ 2009
Nur Irma Sari Dewi Sekretaris FBS/ B. Jer/ 2010
Fitrah Nur Aidillah Staff FBS/ B. Ind/ 2010
Murni Tinambunan Staff FBS/ B. Pran/ 2010
Maharani Nainggolan Staff FBS/ B. Ind/ 2009
Siti Rabi’ah Staff FBS/ B. Jer/ 2010
Fathur Rizki Arifiani Staff FBS/ B. Ing/ 2010

Jun 15, 2011

Halaqoh Usbu’iyah Muntijah - Majlis Pekanan Yang Ideal.

Copy from Islamedia.

Halaqoh Usbu’iyah (majlis pekanan) adalah salah satu sarana terpenting diantara Wasail tarbawi yang ada, bukanlah disebut tarbiyah tanpa adanya halaqoh, ia adalah asas (dasar) dari tarbiyah, dan ia adalah pondasi tegaknya dan terlaksananya seluruh agenda tarbawiyah, jika halaqohnya kuat, maka dia akan memiliki daya dorong yang kuat pula bagi terlaksananya agenda tarbawiyah, jika halaqohnya lemah maka efek yang akan ditimbulkan adalah tersendatnya, bahkan tak terlaksananya agenda tarbawiyah dengan baik.



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS 58.Al Mujadilah – Ayat 11]
Lalu halaqoh yang bagaimanakah yang dimaksud :
Ciri-ciri Halaqoh Usbu’iyah Muntijah

1. Halaqoh Imaniyah : Halaqoh yang mampu meningkatkan keimanan para anggotanya, maka program yang menunjang peningkatan keimanan harus berjalan , salah satunya adalah programTilawatil Qur,an dan menghafalnya .

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.[QS 8.Al Anfal – Ayat 2 ]


2.Halaqoh ‘ubudiyah shohihah : Halaqoh harus memutaba’ah (evaluasi) ibadah yang dilakukan oleh para anggotanya untuk memastikan bahwa ibadah anggota halaqoh dalam keadaan baik sebagai refleksi keimanan yang terus bertambah.bagaimana sholat berjamaahnya,sholat sunnahnya, shaum sunnahnya, dzikir ma’tsurotnya ,mabit (katibah) dll.
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلاً
Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. [QS 73.Al Muzzammil – Ayat 8 ]



3. Halaqoh ‘Ilmiyah Tsaqofiyah : Halaqoh harus memiliki program Ilmiyah, seperti bedah buku, atau sesekali menghadirkan murobbi tamu untuk mengajarkan satu bidang ilmu.atau halaqoh dapat memberikan dorongan motivasi bagi anggotanya untuk menuntut ilmu syar’I atau ilmu lainnya seperti politik,social, pendidikan dll. dalam rangka membentuk kader berkwalitas baik ilmu dan wawasannya.


Rasululloh SAW bersabda :
” Idza Aradallohu biabdi khoiron ,Ayyatafaqqohu Fiddiin “
Artinya : "Jika Alloh meghendaki kebaikan atas seorang hamba maka :dijadikanlah dia faqih (faham) terhadap agamanya “.

4. Halaqoh Ukhuwah Imaniyah : Halaqoh harus mampu menyatukan hati(Irthibatul Qulub) para anggotanya dengan program-program ukhuwah, setiap anggota halaqoh harus bertaaruf (saling mengenal) satu dengan yang lainnya,saling memahami (tafahum) diantara mereka, hingga sampai kepada tingkatan saling menanggung (Takaful), atau Saling menolong satu dengan yang lainnya ( Taawun).untuk mewujukan rasa ukhuwah diantara mereka.Adapun program yang dapat dilakukan diantaranya Rihlah ,olahraga bersama (Riyadhoh), Saling mengunjungi (Ziaroh), makan bersama, Iftor jamai (buka puasa bersama) dengan demikian akan tercipta rasa rindu diantara mereka jika tak bertemu.
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. [QS 3.Ali ‘Imran – Ayat 103 ]


5. Halaqoh da,wiyah wal harokiyah : Halaqoh harus mampu membangun kesadaran berdakwah dan berharokah kepada para anggotanya, karena itulah sesungguhnya misi utama dari halaqoh usbu’iyah,jika halaqoh tak mampu melahirkan kader dakwah ibarat pohon yang tak berbuah, ibarat telur yang dierami tak pernah menetas (mungkin telurnya busuk) , atau ibarat menikah tak jua punya anak.

Firman Alloh SWT dalam surat Ali Imron ayat 79

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَاداً لِّي مِن دُونِ اللّهِ وَلَـكِن كُونُواْ رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani , karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.[QS 3.Ali ‘Imran – Ayat 79]


Atau hadits nabi “ Khoirukum manta’alamal Qur ana wa’alamahu (Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Alqur,an dan mengajarkannya).

Dengan melaksanakan unsur-unsur diatas secara maksimal maka sebuah halaqoh akan menjadi pertemuan yang dinanti, memberikan rasa aman dan nyaman bagi para anggotanya, bahkan dia mirip sebuah hubungan keluarga, dan merasa ada keterikatam dan keterkaitan antara mereka.

Namun jika halaqoh tidak memenuhi unsur –unsur diatas maka dikhawatirkan akan menjadi sebuah pertemuan yang monoton, menjemukan dan memiliki kecenderungan dan potensi futur yang besar pagi para anggotanya.

Wallohu 'alam,
http://islamediaonline.files.wordpress.com/2011/05/mridwan.jpg
Ustadz Muhammad Ridwan

Mar 22, 2011

Aktivis Dakwah Kampus (ADK): Kamu Istimewa dan Luarbiasa


Oleh: Nurhasanah 'san' Sidabalok
Staff Div. Ke- LDK- an Puskomda FSLDK Sumut 2011-2013
Sekdept. RPK UKMI Ar- Rahman FBS 2010-2011

Jalan ini jalan panjang. Penuh onak duri. Tidak semanis yang kamu pikirkan. Tapi keputusanmu untuk memilih jalan ini menjadi bukti nyata bahwa kamu ingin turut menjadi bukti sejarah kemenangan jalan dakwah ini. Ia menjadi bukti nyata bahwa kamu adalah sosok yang menginginkan sebuah perubahan. Perubahan sikap pada diri sendiri dan berharap besar dapat memberi perubahan bagi kondisi bangsa ini. Menyadari hal ini, kamu tidak akan pernah berlama- lama unutk istirahat. Memahami hal ini, kamu tidak akan berlari jauh meninggalkan saudaramu berjuang sendirian.

Dan kemudian, kamu diperkuat oleh Allah lewat ayat- ayatNya: QS.An-Nahl ayat 125 :“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” , QS. Ali Imran ayat 110: “ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” dan pada QS. Al-Baqarah ayat 257 : “ Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…”

Itulah yang menguatkanmu hingga hari ini. Jelas bahwa apa yang kamu lakukan adalah hal yang benar, bahkan dakwah adalah kewajibanmu. Gelar mahasiswa muslim yang kamu sandang hari ini harus dpertanggungjawabkan. Tidak ada alasan lagi untuk mencari- cari alasan untuk mengatakan 'belum diperintahkan', 'belum diminta' dll. Namun hari ini kamu harus sudah bisa membaca suasana. Ketika kamu dibutuhkan unutk berbuat sesuatu, maka segera laksanakan. Menunggu perintah hanyalah ciri mereka yanng belum menyandang gelar 'kebanggaan' ini. MAHASISWA.

Dan hari ini, keputusan unutk bergabung di jalan dakwah ini merupakan karunia Allah. Tidak semua mahasiswa muslim yang diberi kesempatan unutk merasakan bahwa jalan ini penting bagi diri mereka. Namun kamu tahu itu. Maka jaga ia.

Sepanjang perjalanan, kamu akan menemukan berbagai persoalan yang memang sudah menjadi tabiat dakwah ini. Menuntut hadirnya jiwa yang tegar, tidak loyo.

Mungkin kamu akan menemukan rekan seperjuangan yang selalu mengeluh, maka bersyukurlah karena kamu selalu menyimpan keluh kesahmu dan fokus di solusinya. Bersyukurlah ketika kamu sudah paham bahwa mengeluh bukan solusi yanng tepat untuk sebuah persoalan, namun pemikiran cerdas yang dibutuhkan saat itu.

Suatu ketika kamu akan menemukan rekan di kepengurusan yang selalu minta tolong padamu. Bersyukurlah, karena mereka yakin padamu. Cobalah untuk selalu berprasangka baik. Sebenarnya bisa saja kamu katakan bahwa kamu juga punya kerja di departemen sendiri, namun yang keluar dari bibirmu hanyalah ucapan 'mohon doanya agar ini bisa cepat selesai'. Atau bisa saja kamu menghindar dari berurusan dengan dia, namun yang kamu lakukan malah mendekatinya dari mengerjakan sesuatu secara bersama- sama. Tidak ada beban yang nampak dari wajahmu unutk mengerjakan progja yang sebenarnya bukan tugas kamu.

Atau, kamu menemukan kondisi dimana rekanmu sesama aktivis dakwah menceritakan semua persoalan dan kesibukannya, hingga ia ingin menarik diri dari jamaah ini. Tidak ada kata- kata yang tidak bermanfaat keluar dari bibirmu. Nasihat dan doa yang tulus selalu kamu berikan. dan pastinya keadaan itu tidak membuatku surut dan merasa sendiri. Komitmen yang kuat untUk terus berjuang di jalan ini menjadi kekuatan besar unutk terus berdiri walau di sedikit terseok- seok. Membayangkan perjuangan Rasulullah dahulunya semakin menguatkan diri bahawa betapa apa yang dilakukan saat ini belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan beliau.

Dan satu lagi, kamu akan menemukan rekanmu yang terkena virus terdahsyat yang sangat tidak diharapkan keberadaannya akibat dahsyatnya efek yang diberikan hingga maraknya kader yang berguguran. Menghadapi hal ini,bisa saja kamu jauhi dia karena sudah melanggar aturan main di dakwah ini. Namun apa yang kamu lakukan? Pembicaraan intensif, diskusi berdua dan saling menasihati. Itu yang kamu lakukan karena kamu memang sudah paham bahwa manusia itu tempatnya khilaf. Dan menjadi kewajiban saudaranyalah yang mengingatkannya.

Over all, ada banyak persoalan dan permaalahan yang akan membuatmu dewasa. Tidak ada yang sia- sia dari apapun yang telah kamu perjuangkan. Dakwah adalah kewajiban, dan belajar adalah kewajiban sebelum melakukan dawah. Ilmu yang benar adalah salah satu syarat diterimanya amalan seseorang.
Bangunlah team work yang baik. Tidak masalah jika memang yang lebih sering bergerak adalah kamu seorang. Yakinlah bahwa mereka sebenarnya ingin bergerak seperti halnya kamu. Namun kesempatan belum ada untuk mereka. Potensi yang kamu miliki haruslah bermanfaat bagi orang lain. No sigh:). Salam dakwah! (22/03san)


*Buat teman2 di UKMI Ar Rahman FBS: kita adalah kita dan kita luarrrrbiasa!
*puskomda'erz: semangat menjadi modal utama saat ini.. SEMANGAT BELAJAR

Mar 7, 2011

Tebar Kebaikan, Panen Kemudahan


Tebar Pesona??? Bukan, tapi ini niiii:::
Berikut akan kita bahas tentang hukum ‘sebab – akibat’ oleh 2 golongan yang berbeda.
Cekidot…!
  1. Sebab- akibat, Menurut ahli Maksiat
Kaum atheis yang tidak mengenal Allah, menyandarkan pemenuhan kebutuhan dan peraihan cita- cita mereka kepada kemampuannya. Tidak ada istilah doa dalam kamus kehidupan mereka . berhasil menurut mereka, melulu dikarenakan kesigapan atau cermatnya perhitungan.
Begitu pun dengan kegagalan dan kecelakaan, terjadi lantaran keterbatasan kemampuan atau kecerobohan.
Sebagian lagi, sedikit ‘lebih mending’ dari mereka. Di saat kehidupan terasa lapang, nayaman dan menyenangkan, mereka cenderung lalai, tidak menjaga ketaatan, dan berlaku syirik. Namun jika tiba- tiba bahaya dan kesempitan terpampang di hadapan mata, serta- merta mereka meninggalkan sesembahan yang mereka gungkanselain Allah, kemudian berdoa dengan ikhlas memohon hanya kepada Allah.
Semoga kita tidak tergolong yang demikian.
  1. Sebab- akibat Menurut Mukmin yang Taat
Nah, ini dia. Perfect! Beginilah seharusnya kita.
Adapun orang mukmin memiliki sikap yang berbeda, bahkan berseberangan dengan itu semua. Bagi mereka, ‘tabungan’ kebaikan yang dijalani secara kontiniu dalam suka dan duka, adalah sebab dominan datangnya keberuntungan, dan terhindarnya mereka dari petaka. Mereka mengimani sabda Rasulullah:
 “Kenalilah Allah di saat lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di saat sempit.” (HR. Tirmidzi)
Menabung Kebaikan, Menuai Kemudahan
Rumus ini tidak hanya berlaku bagi para anbiya. Siapapun yang mengenal Allah dan menjaga hak- hakNya di saat aman, Allah akan mengenalnya di saat genting. Karen itulah seorang mukmin tidak pernah bosan mengumpulkan kebaikan. Dia sselalu menjaga pengabdiannya kepada Allah dalam segala kondisi; di saat suka dan duka, lapang dan sempit dan saat mudah maupun sulit. Rasulullah bersabda:
“Tidak kenyang- kenyangnya orang yang beriman dari mengumpulkan kebaikan, hingga dia berhenti di jannah.” (HR. Tirmidzi)
Alangkah indah nasihat nasihat sebagian ulama salaf:
“Jika kamu menyadari amalmu akan ditimbang baik dan buruknya, maka jangan remehkan kebaikan sekecil apapun. Karena kelak kamu akan melihat, yang sedikit itu akan membahagiakan dirimu. Dan jangan pula menganggap enteng keburukan sekecil apapun. Karena kelak akan kamu saksikan, bahwa yang sedikit itu akan membuatmu menyesal.
So,,,,, udah makin jelas bahwa ternyata apapun yang kita lakukan akan membuahkan hasil. Tinggal kita yang milih, pengen buah yang bagus atau yang busuk??
Mari banyak2 tebar kebaikan, bukan tebar PESONA! ^_^
(7/3san, dari berbagai sumber)


Mar 3, 2011

Salam Redaksi Mading



Assalamu’alaikum Wr. Wb
Sobat Ukmi FBs…
Alhamdulillah, kepada Allah kita bersyukur, memuji, meminta pertolongan dan ampunan. Kita berlindung kepadaNya dari keburukan jiwa dan kejahatan diri kita. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tak seorang pun dapat menyesatkan. Dan siapapun yang disesatkan, tak seorang pun yang dapat member petunjuk padanya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan orang- orang yang mengikuti sunnah beliau.

Sobat UKMI FBS.

Ada sebuah semangat yang tidak boleh hilang dari kamus kehidupan kita, semangat itu adalah semangat perbaikan.
2010 adalah tahun yang penug dengan ujian. Bagaimana tidak, dari awal hingga penghujung tahun ini negeri kita dilanda berbagai masalah yang tak kunjung henti. Rentetan musibah menjadi hal yang biasa dalam keseharian kita. Banjir, gunung meletus, bahkan tsunami kembali melanda negeri yang kita cintai ini. 

Dan musibah yang juga tidak dapat kita pungkiri adalah hilangnya rasa malu dari para pejabat kita, para pemimpin kita di atasan, korupsi merajalela di mana- mana. Dan mirisnya, kegiatan itu sepertinya bukan hal yang terlarang lagi, malah dibanggakan. Melakukan berulangkali dan belum ada tindakan jelas terhadap pelaku. Maka semakin buruklah citra negeri ini di hadapan Allah.

Berbeda orang, maka berbeda juga cara mereka menanggapi semua musibah yang menimpa ini. Sebagian hanya meratapi musibah yang menimpa dan menuntut besar kepada Sang Pencipta, sebagian hanya turut merasa iba tanpa ada tindakan nyata, sebagian malah hanya menganggap itu adalah ujian Allah bagi mereka yang sering berbuat kesalahan. Dan di manakah posisi kita? Ternyata ada satu golongan lagi yaitu mereka yang menerima ujian Allah dengan lapang dada, berusaha untuk memberi bantuan kepada mereka baik lewat doa dan bahkan secara materi. Semoga kita termasuk golonngan ini. 

Begitu juga dalam hal korupsi yang semakin menjadi- jadi. Sebagian mereka mengutuk para koruptor dengan kata- kata yang kurang ahsan, bahkan memberi ejekan- ejekandengan mengkaitkan para koruptor dengan berbagai hal yang menampilkan keebusukan mereka. Namun di balik itu, ada juga mereka yang terus berdoa semoga para koruptor dibukakan hatinya oleh Allah. Tidak adda umpatan yang keluar dari mulut mereka, hanya doa tulus yang tersampaiakan kepada saudaranya yang mungkin kala itu sedanng khilaf.

Dimanakah posisi kita dari kedua situasi tersebut??
Semoga kita selalu menyimpan semangat itu, semangat perbaiakan yang kelak kita tularkan kepada saudara kita.
Amin.
Nah, mading edisi ini akan mengupas tentang ‘Tebar Kebaikan, Panen Kemuliaan’.. hmm yang biasanya tebar pesona, yuk musing sebentar! Banting setir ke Tebar Kebaikan. Lebih mantap deh..

Ckckckkck, intip acara uKMI FBS…
Yups, buat kamu2 yang di dauroh edisi I kemaren gak sempat, atau sakit, atau bantu ortu, atau udah daftar tapi tiba- tiba ada kendala, atau yang belum ada niat sama sekali ,, nah kali ini UKMI undang teman2 kembali
..
Kesempatan kedua, gak biasanaya lho!
Kalo mau jadi anggota uKMI, kudu ikut yang ini niiiii..
Bakalan seru! Dipandu oleh master of training yang luarbiasa, dan di’ceramahi’ oleh pemaateri yang gak kalah keren, siiip dah..
Tuk info lebih lanjut:
-          Baca mading kita yaaaaa
-          Ikuti terus blog ukmi, iiiia
-          Fb gak ketinggln, singggahhhhiiin
-          Jumpain aja kakak/ abang ukmi yg dikenal.  Ada labelnya tuhhJ
-          Sering2 maen ke mushola  ..(solat maksudnya sekalian crita- crita , bukan gossip yaa)
-          Kudu rajin keputrian, charge batre yg udah seminggu tak dicassss
-          Hmm, terakhir. Smsin aja kakak/ abang di ukmi.. kl gak dibalas, lapor ke sini..(:

Akhir kata, semoga media mading ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya.
Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan mading ke depannya.

Semangat Perbaikan!

Tim Redaksi