Pages

Feb 17, 2012

Seberapa Sehatkah Komunikasi Kita?

By: Nurhasanah Sidabalok
Staff Dept. RPK UKMI Ar Rahman UNIMED 2011- 2012

Di sudut kota, pukul 6 pagi… SMS

I: “Ukhti, hari ini  ada syuro’ Pentas Seni Budaya  Islam di masjid kampus pukul 7.00 wib. Anti bisa kan?”
A: “Kegiatan apa itu akh? Siapa yang ngadakan?”
I: “Kerjasama kita dengan Himpunan Mahasiswa Muslim Hukum. Afwan tidak membicarakan sebelumnya dengan akhwatnya, tapi kemarin keputusan ini butuh cepat.”
A: “Afwan, ana hari ini ada kelas jam 7.30 wib. Paling cepat syuro’nya dimulai jam 7.15 wib. Lagian ana gak bisa langsung ikut campur di acara ini. Perlu ana bicarakan dengan akhwat lain. (sedikit kecewa)
I: Ya udah kalau begitu. (sedikit merasa bersalah dan juga dongkol mungkin)
…… Dan Pentas Seni Budaya Islam berlangsung. Tanpa ruh, sepertinya. Masih ada keganjalan di hati kedua belah pihak. Hingga ia berpengaruh pada kinerja berikutnya yang sejatinya butuh kesamaan persepsi dan komunikasi yang lancar. Namun apa yang terjadi? Komunikasi seadanya. Lembaga yang dahulunya seperti rumah hangat para kader, ujung2nya hanya tempat persinggahan yang tidak sehat. Kader merasa asing dalam rumah sendiri, itulah terjadi.

Pernahkah  hal ini terjadi di ‘rumah’ kita? Tau kan apa akar masalahnya? Yaps, let’s see.

Pertama, kelompok ikhwan membuat keputusan mendadak. Ini memang kesalahan besar sepanjang sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. (gitu kata kawan2). Tidak hanya sekali, namun berkali- kali mereka buat keputusan seperti ini. Seolah akhwat hanya sebagai pem- follow up dan pelaksana atas kebijakan mereka. Tentu saja banyak yang protes.
 “Minimal SMS kek, atau apalah gitu, kata seorang akhwat.”
“Anti tau mendadak kan? Keputusan harus segera diberikan. Ana yakin kalaupun akhwatnya di SMS pasti tidak segera membalas. Lambat siih (dalam hati).”

Lambat. Yah, mungkin itu juga alasan mereka untuk mengambil keputusan dalam waktu singkat. Di samping kebutuhan akan keputusan yang sangat mendesak tentunya. Namun hal ini tidak bisa menjadi alasan utama bagi ikhwannya untuk mengambil keputusan sendiri. Komunikasi yang sehat harus sering dibangun antar kader. Sebaiknya jauh- jauh hari  hal itu sudah diwacanakan, jadi minimal akhwat sudah punya gambaran sedikit terkait kegiatan yang akan dilaksanakan.
Satu hal yang harus kembali ditanamkan pada diri ikhwan bahwa akhwat punya peran besar dalam keberlangsungan agenda- agenda dakwah walau yang selalu berdiri di depan adalah para ikhwannya. Bukankah behind the scene itu punya efek yang luarbiasa?
Kedua, akhwat terlalu sensitif hingga tidak sempat melihat dari sisi lain. Berbagai praduga dan citra negatif tentang ikhwan sudah terbentuk dalam pikiran mereka. Ikhwan egois. Itulah yang akhirnya mereka simpulkan.  

Bukankah kita dianjurkaan untuk berhusnudzon? Atau  mentang2 sama ikhwan gak bisa berprasangka baik, gitu? Ini adalah satu senjata jitu untuk memperbaiki hubungan kita. Bayangkan apa yang terjadi jika dalam satu keluarga saling mencurigai dan berprasagka buruk satu sama lain. Tentu output dan kerja2 yang dilakukan tidak maksimal. Esensi dari kerja2 tersebut tidak akan didapatkan. Hingga tidak jarang acara demi acara berakhir hanya menyisakan lelah dan payah. (atau hutang mungkin).

 Jadi himbauan kepada seluruh akhwat agar tetap mengedepankan husnudzon dalam menanggapi satu persoalan. Hilangkan pikiran2 negatif yang hanya akan memperlambat gerak kita. Jika memang ada yang kurang pas di hati, sampaikan dengan cara yang ahsan, syuro’ mungkin atau via media lainnya jika memang tidak memungkinkan bicara langsung. 

Hingga disimpulkan:
Sejarah memang berulang. Hal seperti ini sudah pernah terjadi juga di tahun- tahun sebelumya. Komunikasi yang baik adalah akar penyelesaian dari semuanya. Itu juga alasannya kenapa banyak media komunikasi yang hari ini disuguhi kepada kita. Tidak lain dan tidak bukan agar kita bisa menciptakan komunikasi yang sehat satu sama lain. Bukan hanya kinerja kita yang akan membaik lewat komunikasi yang sehat ini, namun juga kondisi hati kita juga akan semakin sehat. Tidak akan ada lagi prasangka- prasangka buruk yang menambah titik hitam di hati kita. Tidak akan ada lagi wajah- wajah kusut nan kusam memikirkan sikap saudara kita yang tiba- tiba berubah. Komunikasikan! Hingga kesalahan- kesalahan yang sama tidak terjadi berulangkali dan semua kita menikmati perjalanan dakwah ini

Selamat datang di rumah hangat kita, Lembaga Dakwah Kampus! (18/02san)

Feb 8, 2012

Penerimaan Beasiswa PPA dan BBM UNIMED 2012


Sesuai dengan  surat Pembantu Rektor III perihal penerimaan Beasiswa BBM dan PPA bagi mahasiswa UNIMED tahun 2012, maka dengan ini diumumkan kepada mahasiswa FBS yang ingin mendapat beasiswa agar segera mengajukan permohonannya dengan persyaratan sebagai berikut:
1.   Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA untuk 170 orang), dengan prioritas sebagai berikut:
a.       Mahasiswa yang memiliki IPK tertinggi
b.      Mahasiswa yang bagi orangtuanya paling tidak mampu

2.   Beasiswa Biaya Belajar Mahasiswa (BBm untuk 170 orang), dengan prioritas sebagai berikut:
a.       Mahasiswa yang orangtuanya paling tidak mampu
b.      Mahasiswa yang memiliki IPK tertinggi

3.   Mahasiswa regular yang duduk pada semester II hingga semester VIII yang memiliki IPK serendahnya 3,00 (khusus PPA) dan 2,75 (khusus BBM). Khusus untuk mahasiswa semester II, IP serendahnya 3,75

4.   Mengajukan permohonan tertulis kepada Rektor UNIMED untuk mendapatkan bantuan *dengan melampirkan berkas:
a.       Fotocopy KTM, KRS, dan Kwitansi pembayaran SPP semester genap 2011/ 2012
b.      Fotocopy rekening listrik bulan Januari 2012 atau bukti pembayaran PBB dari alamat orangtua
c.       Surat pernyataan tidak sedang menerima beasiswa dari sumber lain* pakai materai Rp. 6000,-
d.      Fotocopy Kartu Keluarga (dileges lurah/ kepdes setempat)
e.       Fotocopy KHS terakhir
f.       Surat Keterangan Tidak Mampu atau layak mendapat bantuan beasiswa yang dikeluarkan oleh kelurahan atau kepala desa alamat orangtua (khusus pemohon beasiswa BBM)
g.      Surat Keterangan Penghasilan orangtua pemohon beasiswa PPA oleh Lurah/ Kepdes yang bagi orangtuanya bukan PNS atau pegawai swasta atau BUMN. Bagi orangtuanya PNS/ Swasta/ BUMN harus disertakan fotocopy daftar gaji yang telah dileges
h.      Fotocopy buku rekening BNI (wajib dilampirkan, jika tidak ada, tidak akan diproses)

5.   Permohonan paling lambat Kamis, 16 Februari 2012 pukul 15.00, diantar sendiri ke Kasub kemahasiswaan FBS Ged. 69 Lt. II

6.   Masing2 berkas dibuat rangkap 2 dan disusun menurut urutan seperti di atas


7.   Warna map disesuaikan dengan jurusan masing2

8.   Lebih diprioritaskan apabila pemohon membuat PKM- AI atau PKM- GT yang sesuai dengan ketentuan dan siap dikirimkan  (lihat buku panduan pada dp2mdikti.go.id)

9.   Di depan map dituliskan identitas yang lengkap antara lain; 1. Nama, 2. Nim, 3. Jurusan, 4. IPK, 5. Alamat di Medan, 6. Pekerjaan orangtua, 7. Penghasilan orangtua, 8. No HP yang dapat dihubungi

Demikianlah kami umumkan untuk dapat dimaklumi.


*Format tersedia

Medan, 06 Februari 2012
a.n. Dekan
Pembantu Dekan III


Dr. Daulat Saragi, M. Hum.
NIP. 19641107 199103 1010


Further information:
UKMIerzz FBS

Jan 14, 2012

Kunci Meraih Ketenangan Hati

    Banyak orang mencari berbagai cara agar mampu mendapatkan ketenangan hati. Karena ketidaktahuannya, tidak sedikit dari mereka yang mencari jalan pintas untuk mendapatkan ketenangan hati tersebut. Pada akhirnya mereka terjerumus kepada hal-hal yang bertentangan dengan nilai yang diyakini oleh hati mereka sendiri. Tanpa disadari mereka hanya mendapatkan kesenangan sesaat yang merugikan. Contoh yang dewasa ini kerap muncul di sekitar kita seperti; minum obat terlarang (baca: narkotika), minum-minuman keras, hiburan malam dsb.
   Apakah dengan melakukan hal-hal tadi hati akan tiba-tiba menjadi tenang? Tidak. Bahkan yang akan muncul adalah kegelisahan tak berujung. Mengapa? Allah SWT telah memberikan jawaban melalui firman-Nya. “Kemudian hatimu menjadi keras sesudah itu, sehingga seperti batu, malahan lebih keras lagi. Sebab ada batu-batu yang memancar sungai-sungai daripadanya, dan ada pula yang terbelah mengeluarkan air. Dan ada pula yang meluncur jatuh, karena takutnya kepada Allah. Dan Allah tiada lengah terhadap apa yang kamu lakukan”. (QS. Al-Baqarah [02]: 74).
   Ali bin Abi Thalib RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan, seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutupi oleh awan. Ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkap, ia pun kembali bercahaya” (HR. Bukhari-Muslim). Jelas bahwa setiap manusia mempunyai kemampuan menata hati sesuai dengan apa yang diharapkannya. Hati akan menjadi bersih dan tenang jika dirinya mengizinkan untuk itu. Dan sebaliknya, hati akan galau dan kotor jika internal dirinya pun mengizinkan. Maka sebaik-baik manusia adalah yang mampu mengendalikan dan menata hati, pikiran, sikap dan tindakan yang baik.
   Tahukah bahwa ketika kita ingin mendapatkan ketenangan hati, maka dekatilah Sang Pemilik dan Pemelihara hati sejati. Allahu Rabbul Izzati. Bukan melakukan sesuatu yang justru dapat menjauhkan diri kita dari-Nya. Seperti tertuang dalam perintah suci dari-Nya yang berbunyi “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Rad: 28).
   Cara kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya bisa dengan melakukan beberapa hal; banyak beristighfar astaghfirullah aladziim, bertaubat yang merupakan realisasi dari introspeksi diri, berkumpul dengan orang-orang shalih, mengikuti taklim, membaca buku-buku motivasi dan banyak lagi hal-hal positif yang bisa kita lakukan dan bermanfaat daripada melakukan kesenangan sesaat yang sebenarnya membawa kita pada jurang kenistaan serta menjaga kelangsungan amal shalih.
Rasulullah SAW bersabda “beramallah semaksimal mungkin yang kamu mampu. Karena Allah, tidak akan bosan sebelum kamu bosan dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinu walaupun sedikit”. (HR. Bukhari)
   Hilangkanlah stigma yang berlaku di lingkungan kita bahwa hanya orang-orang kuperlah yang tidak pernah mencicipi minuman keras, narkoba dan hiburan malam. Ingat bahwa ayat di atas mengajak kita untuk mendapatkan ketenangan hati yang hakiki. Yakni hati seorang hamba yang hanya terpaut pada pemilik hati sesungguhnya. Maka setelah itu temukanlah diri kita hadir sebagai sosok yang damai dan tenang. Insya Allah. Wallahualam bish shawab.

Dec 26, 2011

10 Kerusakan dalam Tahun Baru

Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.
Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram
Perlu diketahui bahwa perayaan (’ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]
Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.
Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:
  1. Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.
  2. Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.
  3. Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.
Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:
  1. Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau
  2. Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
    Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-
Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.
Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir
Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »
Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]
An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]
Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.
Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).
Beliau bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]
Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]
Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru
Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.
Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”
Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,
وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.
Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”
Ibnu Mas’ud lantas berkata,
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]
Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.
Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru
Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[10]
Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu
Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.
Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.
Ibnul Qoyyim -rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]
Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13] Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.
Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat
Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!
Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina
Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[17]
Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin
Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]
Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!
Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan
Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)
Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.
Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]
Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga
Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]
Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.
Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[22]
Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ
“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]
Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.
Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.



http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2844-10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru-.html