Pages

Jul 2, 2012

Hukum Puasa Nisfu Sya'ban (Pertengahan Sya'ban)


Tidak terasa, kita sudah memasuki bulan Sya'ban dan sebentar lagi bulan yang dinanti- nanti akan segera tiba. Semoga kita diberi kesempatan untuk berbenah diri di bulan penuh ampunan, Ramadhan. Nah, bicara tentang Sya'ban rasa- rasanya ada beberapa hal yang perlu kita soroti. Ya, inbox pun dihiasi dengan ajakan meningkatkan ibadah. Seneng dong. Namun hati- hati, perlu kita selidiki juga. Benarkah yang ia dianjurkan oleh Rasulullah, seperti puasa nisfu Sya'ban? Huaaaa...Berikut kita bagikan sekelumit terkait puasa pertengahan bulan Sya'ban.

Allah yang telah menciptakan kita telah menganugerahkan banyak nikmat kepada kita, mulai dari tangan, yang dengannya kita dapat berbuat, kaki yang yang dengannya kita dapat berjalan, air yang dengannya kita dapat minum ditambah nikmat-nikmat lainnya yang dengan itu semua lengkap sudah kenikmatan-Nya . Allah juga membolehkan kita menikmati itu semua sesuai kenginan kita, yang tentunya harus sesuai ketentuannya atau menjauhi apa yang dilarang-Nya dengan artian kita boleh melakukan apapun dengan nikmat-nikmat tersebut tetapi tetap menjauhi apa yang sudah dilarang-Nya, Maka dari itu  para ulama mengambil kesimpulan dengan membuat kaidah : asal dari segala sesuatu adalah dibolehkan kecuali apa-apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya.

Lain halnya dengan ibadah mahdhah ataupun yang kita kenal dengan ritual-ritual ibadah yang sudah menjadi kewajiban kita untuk dilakukan. Semua harus dilakukan sesuai apa yang dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah, karena tidaklah Allah megutus Rasul-Nya kecuali agar kita mencontoh kepadanya, dan barang siapa yang taat kepada Rasulullah maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah, sehingga barang siapa yang tidak taat kepada Rasulullah berarti ia tidak taat kepada Allah, sebagaimana firman-Nya: “Siapa yang taat kepada Rasul(muhammad) maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah, dan barang siapa yang berpaling dari ketaatan pedanya, maka seungguhnya  kami tidak mengutus mu (Muhammad) untuk memeliara mereka” (An-nisa : 80). DR Sulaiman Al-Asyqar mengomentari ayat tersebut dengan berkata: “Ayat tersebut memberi penjelasan bahwa sesungguhnya ketaatan kepada rasul adalah ketaaran kepada Allah karena Rasul tidak menyruh kepada kita kecuali apa yang Allah perintahkan dan tidak melarang kecuali apa yang Allah larang”.

Maka dari itu, semua ibadah yang dilakukan sudah semestinya bercontoh kepada Rasulullah yang sudah tentu didahulukan dengan niat yang ikhlas, karena itulah syarat diterimanya ibadah kita, jika ikhlas tidak ada dalam ibadah kita, maka hanya kelelahan yang akan kita dapatkan, sesuai sabda Rasulullah: sesungguhnya segala amal itu sesuai dengan niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap masing-masing adalah apa yang diniatkannya, maka baraang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya kepada karena keduniaan atau karena wanita yang akan dinikahinya maka sesungguhnya hijrahnya kepada apa yang dia niatkan.. (Muttafaq ‘alaih, dari hadits Umar bin Khattab). Begitu juga dengan ibadah yang kita lakukan tidak sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah, maka hanya kelelahanlah yang kita dapatkan, Rasulullah bersabda: “barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada asalnya dari ku, maka ia akan tertolak” (HR Muslim). Kedua syarat diatas pun (ikhlas dan mencontoh kepada Rasulullah) ditegaskan di dalam al-Quran, Allah berfirman: “Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan tuhannya, maka hendaklah dia  mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan sesuatupun dalam ibadah kepada Tuhannya” (Al Kahfi: 110). Ayat ini dengan jelas menjelaskan bahwa ibadah yang kita lakukan akan diterima jika memenuhi dua syarat, pertama: “mengerjakan kebajikan” dengan artian mengikut apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Kedua: “tidak mempersekutukan Allah dalam beribadah” dengan artian menjauhi riya. Allah pun menjelaskan akan bahayanya jika kita beribadah tidak sesuai dengan tuntunan yang telah Rasul-Nya ajarkan. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya inilah jalan Ku yang lurus maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepada-Mu agar kamu bertaqwa” (Al-An’am 153). Dan masih banyak lagi ayat yang menerangkan akan pentingnya beribadah ikhlas dan mencontoh kepada Rasulullah dalam beribadah.

Maka dari ini semua, para ulama mengambil kesimpulan dengak kaidah yang terkenal: “asal dari ibadah adalah diharamkan kecuali apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya”.
Yang menjadi perhatian dalam tulisan ini adalah masalah yang kedua, yaitu mencontoh kepada Rasulullah, karena sebagaimana yang sudah dijelaskan, jangan sampai kita berlelah-lelah beribadah tetapi akhirnya kita hanya mendapatkan kelelahan tersebut karena kita tidak mencontoh kepada Rasulullah.

Saat ini kita sudah memasuki bulan sya’ban yang mana bulan ini adalah bulan yang paling mendekati bulan suci Ramadhan yang mulia, sehingga tidak heran jika pada bulan  ini banyak umat islam yang memaksimalkan ibadah, karena disamping sebagai latihan menghadapi bulan ramadhan, juga hal tersebut dicontohkan oleh Rasulullah, kerena pada bulan ini Rasulullah memperbanyak ibadahnya.

Ada sebagian dari kita pada bulan ini melaksanakan ibadah puasa nishfu sya’ban dengan niat  mendekatkan diri kepada Allah juga melatih diri untuk menghadapi Ramadhan, bahkan ada sebagian dari kita yang khawatir ataupun menyesal jika tidak dapat melaksanakan ibadah tersebut sehingga tidak heran,  tidak sedikit masjid-masjid disekitar kita melalui mikrofonnya mengingatkan kita agar tidak lupa menjalankan puasa nishfu sya’ban tersebut. Tapi bagaimana dengan hukum puasa tersebut, apakah puasa tersebut merupakan sunnah mu’akkad sehingga banyak umat islam yang khawatir jika terlewatkan, ataukan hanya sunnah, ataukan mungkin makruh atau haram karena ada beberapa hadits nabi yang melarang umat islam melakukannya?. Maka disini kita akan membahas beberapa hadits yang berkaitan dengan ibadah di bulan sya’ban..

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “jika telah memasuki pertengahan bulan Sya’ban maka jangankah kalian berpuasa”  (HR Nasa’I, tirmidzi, abu daud, ibnu majah, Ahmad) dishahihkan juga oleh ibnu hibban dan yang lainnya. Imam Ahmad mempermasalhkan keshahihan hadits ini karena ada Al-‘alaa ibn abdirrahman. Akan tetapi Al ‘ala ibn abdirrahman adalah dari rijal muslim. Menurut ibnu hajar dalam kitabnya taqriibu tahdzib beliau adalah shaduq mungkin hanya tuduhan saja.

Tidak diragukan lagi hadits ini menunjunjukan pelarangan berpuasa pada pertengahan bulan sya’ban, akan tetapi hadits ini dikecualikan dengan hadits “jika pada pertengahan tersebut bertepatan dengan shaum sunnah (seperti senin dan kamis)” . maka jika pada pertengahan bulan sya’ban  bertepatan dengan h ari-hari yang disunnahkan berpuasa (seperti kamis atau jumat), berpuasa pada hari itu boleh hukumnya. Dapat disimpulkan disini, yang dimaksud pelarangan puasa pada pertengahan bulan sya’ban adalah mengkhususan pertengahan bulan tersebut untuk berpuasa dengan niat puasa nisfu sya’ban. Jika ingin berpuasa pada pertengahan sya’ban maka hendaknya berpuasa tiga hari yaitu tiga belas, empat belas dan lima belas, karena puasa tiga hari pada pertengahan bulan memang disunnahkan pada semua bulan, sebagai mana hadits dari Abi Dzar al Gifari: “Kami diperintahkan oleh Rasulullah agar berpuasa tiga hari pada setiap bulannya, yaitu tiga belas, empat belas dan lima belas” (HR Nasa’I, Tirmidz dan dishahihkan oleh ibnu hibban). Banyak perbedaan pendapat mengenai hadits yang melarang puasa nisfu sya’ban, tapi pendapat yang mengatakan haram lebih kuat, maka tidak heran jika mayoritas masyarakat yang mengaku dirinya bermadzhab syafi’I mengharamkannya.

Lalu apa yang disunnahkan pada bulan Sya’ban?. Dari aisyah radiyallahu ‘anha berkata: tidaklah aku melihat Rasulullah berpuasa lengkap satu bulan melainkan hanya bulan Ramadhan, dan  tidaklah aku melihatnya banyak berpuasa melainkan pada bulan sya’ban. (HR Muttafaq ‘alaihi). Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah tidak pernah berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan beliau memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Kenapa Rasulullah memperbanyak puasa pada bulan sya’ban?, yaitu karena pada bulan tersebut banyak manusia yang lalai, sebagaimana yang beliau katakan ketika ditanya tentang puasa tersebut, dari hadits usamah bin zaid, “aku berkata,wahai Rasulullah aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan biasa seperti halnya engkau berpuasa pada bulan sya’ban. Rasulullah menjawab: pada bulan ini banyak manusia yang lalai (yaitu antarea rajab dan ramadha). Pada bulan itu segala amalan diangkat kepada Rabbul ‘alamin, dan aku menginginkan ketika amalanku diangkat aku dalam keadaan berpuasa (Shahih, dalam shahihah syeikh nasiruddin al albany). Lalu adakah dalil yang mensunahkan puasa nisfu sya’ban setelah jelas akan dalil yang megharamkannya??? Allahu a’lam bisshawab…..

Copied from:
http://shohib85.multiply.com/journal/item/8/Hukum_puasa_Nisfu_syaban?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Hei, hati- hati sobat UKMI! Mari kita kerjakan ibadah seperti yang diajarkan Rasulullah!
(intinya dapat kaaan ???)

May 30, 2012

Rekrutmen Berkualitas dan Berkuantitas


       Staff Dept. Rekrutmen dan Pembinaan Kader 
       UKMI Ar- Rahman UNIMED 2011- 2012

Peningkatan kualitas kader harus diimbangi dengan peningkatan kuantitas. Tidak dipungkiri bahwa ketika suatu LDK memiliki kader yang cukup loyal dan punya kemampuan dalam tiga ranah dakwah (da’awiy, siaysih, ilmy), namun jumlahnya sangat sedikit tentu manajemen perencanaan- perencanaan organisasi akan mengalami hambatan. Akan terjadi kekurangan pementor, kekurangan massa, kekurangan dukungan. Memahami hal ini, rekrutmen yang berkualitas menjadi satu harapan besar bagi keberjalanan dakwah di seantero kampus.


Untuk memenuhi kebutuhan kader, LDK dapat menjalankan dua mekanisme rekrutmen, yaitu  masif dan personal.
Rekrutmen masif adalah adalah rekrutmen terbuka bagi seluruh mahasiswa muslim di kampus yang dapat berupa kegiatan- kegiatan syi’ar. Sedangkan rekrutmen personal adalah rekrutmen yang dilakukan secara langsung oleh formatur LDK dan pengurus LDK, atau bahkan oleh kader-kader LDK terhadap individu-individu tertentu yang dianggap memiliki kecenderungan kepada Islam dan memiliki potensi yang besar untuk dakwah. Perekrutan secara personal ini dapat diikuti oleh proses pembinaan saja atau pun sekaligus menempatkannya pada struktur LDK jika dirasa perlu dan standar kepribadian dan kompetensinya telah terpenuhi.

Salah satu parameter berhasilnya kaderisasi adalah terbentuknya kader- kader dengan kapasitas yang ditargetkan secara konkret. Untuk itu, demi terciptanya LDK yang mandiri, profesional, dan regeneratif maka perlahan-lahan setiap LDK diharapkan mampu menghasilkan kader-kader inti secara mandiri melalui alur kaderisasi yang dijalankannya. LDK harus mampu berperan sebagai “kawah candradimuka” yang dapat mentransformasi individu-individu yang pada awalnya belum memiliki kompetensi apa-apa menjadi individu-individu yang memiliki kompetensi keislaman yang tinggi, profesional, intelek, dan siap terjun di lapangan.

Teknis : Langkah-langkah Rekrutmen Massif
Dalam melakukan rekrutmen masif, secara teknis dapat mengikuti prosedur berikut.
a.    Sosialisasi LDK
Tujuan:
-       Mengenalkan LDK kepada seluruh civitas akademika kampus.
-       Menarik minat seluruh civitas akademika kampus khususnya
mahasiswa/i muslim/ah untuk bergabung dengan LDK.

b.      Publikasi rekrutmen
Tujuan:
-       Memberikan informasi kepada seluruh civitas akademika kampus bahwa LDK mengadakan rekrutmen untuk seluruh civitas akademika kampus.

c.    Penyebaran dan pengembalian formulir rekrutmen dan isian biodata calon kader
Tujuan:
-       Mengumpulkan data awal calon kader.
-       Mengenali karakteristik calon kader (biodata singkat, pengalaman organisasi, motivasi bergabung dengan LDK, keterampilan khusus yang dimiliki, pilihan aktivitas yang diminati).

4. Pengolahan data calon kader
Tujuan:
-       Mendapatkan gambaran umum tentang karakteristik calon kader LDK.
-       Mendapatkan database calon kader.

5. Wawancara calon kader (opsional)
Tujuan:
-       Mengenali calon-calon pengurus secara baik dan lebih mendalam (pemahaman keislamannya, harapan-harapannya terhadap LDK, motivasinya, pilihan aktivitas yang diminatinya kelak jika bergabung dengan LDK, tingkat komitmennya dengan dakwah, pengalaman organisasinya, gaya kerjanya, tingkat pengetahuannya terhadap amanah yang akan dijalankannya, konsep diri dan manajemen pribadinya).
-       Memasukkan kader ke dalam kelompok-kelompok pembinaan yang sesuai.

6. Publikasi pengurus
Tujuan:
-       Menginformasikan kader-kader LDK baru yang akan menjalani alur kaderisasi kepada civitas akademika kampus.

Hal-hal penting yang perlu digali dari calon kader pada saat proses
rekrutmen, setidaknya adalah:
1. Data diri calon kader (nama, tempat/tanggal lahir, jenis kelamin, alamat
tempat tinggal, nomor kontak, fakultas/jurusan, angkatan, motto hidup, dll.).
2. Riwayat pendidikan.
3. Pengalaman organisasi.
4. Keterampilan khusus yang dimiliki.
5. Pilihan aktivitas yang diminati.
6. Motivasi bergabung dengan LDK.
7. Tujuannya bergabung dengan LDK.
8. Tingkat pemahaman keislamannya secara umum.


3 hari menuju MUSYAR UNIMED XVII, hawa- hawa 'segarrr' nya mulai terasa.
-Ingat kawan, KITA ADALAH DA'I, maka berbicara, bersikap, dan berbuat lah layaknya seorang da'i-
:)

Mar 11, 2012

Prestasi dan Kontribusi


By: Nurhasanah Sidabalok
Staff Dept. RPK UKMI Ar- Rahman UNIMED 2011- 2012 

Berprestasi adalah impian setiap mahasiswa. Melihat nama di papan pengumuman mading sebagai pemenang lomba, peserta terbaik dalam sebuah event, delegasi kampus dalam acara kunjungan maupun perlombaan, pemenang PKM, mawapres  dan berbagai kemungkinan lainnya adalah saat yang ditunggu- tunggu. Satu lagi, pengumuman penerima beasiswa juga menjadi satu hal menarik di kalangan mahasiswa. hal- hal demikian dirasa menjadi prestasi yang akan memberikan motivasi lebih lagi untuk berkarya di masa yang akan datang serta upaya penokohkan diri.

Namun benarkah prestasi hanya dilihat dari pengumuman- pengumuman itu?
Seorang muslim juga tentu dituntut untuk berprestasi dalam hidupnya. Bagaimanakah seorang muslim memaknai kata prestasi? Dalam Islam, prestasi dikaitkan dengan amal soleh. Ketika seseorang mampu beramal soleh di sekelilingnya, maka saat itu pula dia dikatakan berprestasi. Dengan kata lain, dia melakukan sesuatu untuk orang lain dimana orang lain merasakan manfaat atas apa yang dia lakukan.

Karakter dasar seorang muslim adalah memberi manfaat kepada sesamanya, bukan berpangku tangan atau bersikap masa bodoh dengan kemampuannya, apalagi mencegah orang lain memberi manfaat. Terkait hal ini, sahabat Umar bin Khattab yang terkenal dengan ketegasannya mencela sikap Muhammad bin Maslamah yang melarang Dhahak bin Khalifah yang ingin membuat saluran air. Umar berkata,”Kenapa kamu menghalangi saudaramu untuk membuat sesuatu yang bermanfaat baginya dan bagimu juga, kamu bisa minum darinya dan itu tidak membahayakanmu?” (HR. Malik)

Jika kita lihat di sekeliling kita, masih banyak mahasiswa yang masih sibuk berpikir akan nilai tanpa memperhatikan manfaat yang bisa diberikannya pada orang lain. Terlalu asyik dengan dunianya sendiri tanpa mencoba sedikit memikirkan manfaat apa yang bisa orang lain rasakan darinya. “Sori deh, boro- boro bantuin dia, gue aja kewalahan”. Mungkin demikian jawaban beberapa teman yang ketika ditanyakan alasannya bersikap masa bodoh. Atau mungkin merasa rendah diri dengan kekurangannya, “Wah, mana ada yang bisa diandalkan dariku”. Kedua alasan itu hanyalah alasan yang dibuat- buat untuk menghindar dari sebuah tanggungjawab. Tidak inginkah kita sedikit berbagi dengan orang lain? Layakkah kita membatasi kemampuan diri sementara Tuhan kita telah memberikan banyak potensi pada kita? Sudahkah kita aktifkan seluruh tombol- tombol dari sisi kehidupan kita hingga bisa memberi kontribusi lebih?

Kita dituntut untuk berkontribusi, bukan hanya meminta kontribusi orang lain. Hal ini sejalan dengan didikan Rasulullah kepada para sahabat yang baru masuk Islam kala itu, yakni didikan berdakwah dengan semangat memberi kepada orang lain, semangat memfungsikan apa saja potensi yang dimiliki.

Status mahasiswa semoga tidak hanya sebatas status di KTM yang melayakkan kita mengikuti berbagai seleksi beasiswa dalam dan luar negeri, mempunyai hak untuk hidup nyaman dengan kucuran dana orangtua, ataupun berfoya- foya bersama teman kampus dengan alasan menikmati masa muda. Sesungguhnya kita harus lebih banyak berpikir akan apa yang bisa kita berikan dengan status mahasiswa yang kita punya. Saat ini ssudah kita pahami bersama, maka nilai bukan lagi menjadi orientasi utama kita untuk duduk di bangku perkuliahan. Namun yang menjadi titik tujuan kita adalah manfaat. Bukankah Rasulullah pernah bersabda,”Sebaik- baik kamu adalah yang paling bermanfaat diantaramu?

Jika kita berpikir nilai bagus kita akan mendongkrak nilai teman- teman kita juga, kenapa harus dapat nilai buruk?
Jika datang ke kampus lebih awal dan membantu teman yang kesulitan belajar, kenapa harus datang terlambat?
Jika singgah sebentar di mushola dan membuat saudara kita tersenyum, kenapa harus tergesa- gesa melewatinya?
Jika bergeser sedikit dari tempat duduk di dekat pintu angkot dan memudahkan penumpang lainnya untuk duduk nyaman, kenapa harus bertahan duduk di sana?
Jika berjalan dengan penuh semangat ceria dan membuat saudara kita merasa bahagia kenapa harus merengut?
Jika sesuatu itu baik dan bermanfaat, kenapa tidak kita kerjakan?

Saat mahasiswa berpikir seperti ini, maka tidak akan kita temukan lagi berbagai kebencian, permusuhan, ketakutan, kesedihan. Semua akan berupaya untuk menciptakan ketenangan dan memberikan solusi untuk masalah- masalah yang ada. Hingga mahasiswa menjadi leader opinion di tengah masyarakat dan saat itulah prestasi terbesar baginya.
Semoga bermanfaat. Salam kontribusi! (11/03san)

Mar 3, 2012

Hasan Al Bashri : Sang Pemberani Penyeru Kebenaran

Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan “maula” (pembantu wanita)-nya telah melahirkan seo¬rang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di rumahnya.

Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan penuh sukacita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan. “Sudahkah kau beri nama bayi ini, ya Khairoh?” tanya Ummu Salamah. “Belum ya ibunda. Kami serahkan kepada ibunda untuk menamainya” jawab Khai¬roh. Mendengar jawaban ini, ummahatul mu’minin berseri-seri, seraya berujar “Dengan berkah Allah, kita beri nama Al-Hasan.” Maka do’apun mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pembe¬rian nama.

Al-Hasan bin Yasar – atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-Basri, ulama generasi salaf terkemuka – hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal – sebelum Islam – sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di antara para isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubun¬gan antara Al-Hasan dengan keluarga Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber”uswah” (berteladan) pada ke¬luarga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada di masjid Nabawiy.

Ditempa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadist dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan sahabat-sahabat RasuluLlah lainnya. Al-Hasan sangat mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang demikian tinggi, kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu terpesona.
Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah kala itu terkenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah ilmu. Para sahabat dan tabi’in banyak yang sering singgah ke kota ini.Di Basrah, Hasan Al-Basri lebih banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqah-nya Ibnu Abbas. Dari beliau, Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmu fiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabat-sahabat yang lain. Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.
Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan Al-Basri banyak didatangi orang yang ingin belajar langsung kepadanya. Nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan Al-Basri makin harum dan terkenal, menyebar ke seluruh negeri dan sampai pula ke telinga penguasa.

Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat¬ terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritik atasnya atau menen¬tangnya. Hasan Al-Basri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di depan Al-Hajaj sendiri, Hasan Al-Basri pernah menguta¬rakan kritiknya yang amat pedas.

Saat itu tengah diadakan peresmian istana Al-Hajaj di tepian kota Basrah. Istana itu dibangun dari hasil keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan Al-Basri menyuarakan kritiknya terhadap Al-Hajaj: “Kita telah melihat apa-apa yang telah dibangun oleh Al-Hajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan kesombongannya …”
Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan Al-Basri, “Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!” Namun beliau menjawab, “Sungguh Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.”

Begitu mendengar kritik tajam tersebut, Al-Hajaj menghardik para ajudannya, “Celakalah kalian! Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak seo¬rangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!” .

Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati berge¬tar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang menghadapi Al-Hajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenan¬gan beliau. Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi sang tiran.

Melihat ketenangan Hasan Al-Basri, seketika kecongkakan Al-Hajaj sirna. Kesombongan dan kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan Al-Basri dan berkata lembut, “Kemarilah ya Abu Sa’id …” Al-Hasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semua mata memandang dengan kagum.
Mulailah Al-Hajaj menanyakan berba¬gai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab oleh Hasan Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaan¬nya dijawab dengan tuntas. Hasan Al-Basri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal Al-Hajaj bertanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan Al-Hajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?” Hasan Al-Basri menjawab, “Saat itu kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejuk dan keselamatan buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim.”

Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, “Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …”

Berkata Hasan Al-Basri, “Wahai Ibnu Hurairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid¬ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memelihara¬mu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya.” Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat Hasan Al-Basri yang sangat dalam itu.

Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110H, Hasan Al-Basri memenuhi panggilan Robb-nya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Pendu¬duk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan Al-Basri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong tak berpenghuni.