Pages

Mar 3, 2012

Hasan Al Bashri : Sang Pemberani Penyeru Kebenaran

Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan “maula” (pembantu wanita)-nya telah melahirkan seo¬rang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di rumahnya.

Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan penuh sukacita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan. “Sudahkah kau beri nama bayi ini, ya Khairoh?” tanya Ummu Salamah. “Belum ya ibunda. Kami serahkan kepada ibunda untuk menamainya” jawab Khai¬roh. Mendengar jawaban ini, ummahatul mu’minin berseri-seri, seraya berujar “Dengan berkah Allah, kita beri nama Al-Hasan.” Maka do’apun mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pembe¬rian nama.

Al-Hasan bin Yasar – atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-Basri, ulama generasi salaf terkemuka – hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal – sebelum Islam – sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di antara para isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubun¬gan antara Al-Hasan dengan keluarga Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber”uswah” (berteladan) pada ke¬luarga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada di masjid Nabawiy.

Ditempa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadist dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan sahabat-sahabat RasuluLlah lainnya. Al-Hasan sangat mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang demikian tinggi, kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu terpesona.
Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah kala itu terkenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah ilmu. Para sahabat dan tabi’in banyak yang sering singgah ke kota ini.Di Basrah, Hasan Al-Basri lebih banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqah-nya Ibnu Abbas. Dari beliau, Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmu fiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabat-sahabat yang lain. Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.
Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan Al-Basri banyak didatangi orang yang ingin belajar langsung kepadanya. Nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan Al-Basri makin harum dan terkenal, menyebar ke seluruh negeri dan sampai pula ke telinga penguasa.

Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat¬ terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritik atasnya atau menen¬tangnya. Hasan Al-Basri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di depan Al-Hajaj sendiri, Hasan Al-Basri pernah menguta¬rakan kritiknya yang amat pedas.

Saat itu tengah diadakan peresmian istana Al-Hajaj di tepian kota Basrah. Istana itu dibangun dari hasil keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan Al-Basri menyuarakan kritiknya terhadap Al-Hajaj: “Kita telah melihat apa-apa yang telah dibangun oleh Al-Hajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan kesombongannya …”
Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan Al-Basri, “Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!” Namun beliau menjawab, “Sungguh Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.”

Begitu mendengar kritik tajam tersebut, Al-Hajaj menghardik para ajudannya, “Celakalah kalian! Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak seo¬rangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!” .

Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati berge¬tar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang menghadapi Al-Hajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenan¬gan beliau. Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi sang tiran.

Melihat ketenangan Hasan Al-Basri, seketika kecongkakan Al-Hajaj sirna. Kesombongan dan kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan Al-Basri dan berkata lembut, “Kemarilah ya Abu Sa’id …” Al-Hasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semua mata memandang dengan kagum.
Mulailah Al-Hajaj menanyakan berba¬gai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab oleh Hasan Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaan¬nya dijawab dengan tuntas. Hasan Al-Basri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal Al-Hajaj bertanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan Al-Hajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?” Hasan Al-Basri menjawab, “Saat itu kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejuk dan keselamatan buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim.”

Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, “Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …”

Berkata Hasan Al-Basri, “Wahai Ibnu Hurairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid¬ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memelihara¬mu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya.” Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat Hasan Al-Basri yang sangat dalam itu.

Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110H, Hasan Al-Basri memenuhi panggilan Robb-nya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Pendu¬duk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan Al-Basri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong tak berpenghuni.

Feb 17, 2012

Seberapa Sehatkah Komunikasi Kita?

By: Nurhasanah Sidabalok
Staff Dept. RPK UKMI Ar Rahman UNIMED 2011- 2012

Di sudut kota, pukul 6 pagi… SMS

I: “Ukhti, hari ini  ada syuro’ Pentas Seni Budaya  Islam di masjid kampus pukul 7.00 wib. Anti bisa kan?”
A: “Kegiatan apa itu akh? Siapa yang ngadakan?”
I: “Kerjasama kita dengan Himpunan Mahasiswa Muslim Hukum. Afwan tidak membicarakan sebelumnya dengan akhwatnya, tapi kemarin keputusan ini butuh cepat.”
A: “Afwan, ana hari ini ada kelas jam 7.30 wib. Paling cepat syuro’nya dimulai jam 7.15 wib. Lagian ana gak bisa langsung ikut campur di acara ini. Perlu ana bicarakan dengan akhwat lain. (sedikit kecewa)
I: Ya udah kalau begitu. (sedikit merasa bersalah dan juga dongkol mungkin)
…… Dan Pentas Seni Budaya Islam berlangsung. Tanpa ruh, sepertinya. Masih ada keganjalan di hati kedua belah pihak. Hingga ia berpengaruh pada kinerja berikutnya yang sejatinya butuh kesamaan persepsi dan komunikasi yang lancar. Namun apa yang terjadi? Komunikasi seadanya. Lembaga yang dahulunya seperti rumah hangat para kader, ujung2nya hanya tempat persinggahan yang tidak sehat. Kader merasa asing dalam rumah sendiri, itulah terjadi.

Pernahkah  hal ini terjadi di ‘rumah’ kita? Tau kan apa akar masalahnya? Yaps, let’s see.

Pertama, kelompok ikhwan membuat keputusan mendadak. Ini memang kesalahan besar sepanjang sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. (gitu kata kawan2). Tidak hanya sekali, namun berkali- kali mereka buat keputusan seperti ini. Seolah akhwat hanya sebagai pem- follow up dan pelaksana atas kebijakan mereka. Tentu saja banyak yang protes.
 “Minimal SMS kek, atau apalah gitu, kata seorang akhwat.”
“Anti tau mendadak kan? Keputusan harus segera diberikan. Ana yakin kalaupun akhwatnya di SMS pasti tidak segera membalas. Lambat siih (dalam hati).”

Lambat. Yah, mungkin itu juga alasan mereka untuk mengambil keputusan dalam waktu singkat. Di samping kebutuhan akan keputusan yang sangat mendesak tentunya. Namun hal ini tidak bisa menjadi alasan utama bagi ikhwannya untuk mengambil keputusan sendiri. Komunikasi yang sehat harus sering dibangun antar kader. Sebaiknya jauh- jauh hari  hal itu sudah diwacanakan, jadi minimal akhwat sudah punya gambaran sedikit terkait kegiatan yang akan dilaksanakan.
Satu hal yang harus kembali ditanamkan pada diri ikhwan bahwa akhwat punya peran besar dalam keberlangsungan agenda- agenda dakwah walau yang selalu berdiri di depan adalah para ikhwannya. Bukankah behind the scene itu punya efek yang luarbiasa?
Kedua, akhwat terlalu sensitif hingga tidak sempat melihat dari sisi lain. Berbagai praduga dan citra negatif tentang ikhwan sudah terbentuk dalam pikiran mereka. Ikhwan egois. Itulah yang akhirnya mereka simpulkan.  

Bukankah kita dianjurkaan untuk berhusnudzon? Atau  mentang2 sama ikhwan gak bisa berprasangka baik, gitu? Ini adalah satu senjata jitu untuk memperbaiki hubungan kita. Bayangkan apa yang terjadi jika dalam satu keluarga saling mencurigai dan berprasagka buruk satu sama lain. Tentu output dan kerja2 yang dilakukan tidak maksimal. Esensi dari kerja2 tersebut tidak akan didapatkan. Hingga tidak jarang acara demi acara berakhir hanya menyisakan lelah dan payah. (atau hutang mungkin).

 Jadi himbauan kepada seluruh akhwat agar tetap mengedepankan husnudzon dalam menanggapi satu persoalan. Hilangkan pikiran2 negatif yang hanya akan memperlambat gerak kita. Jika memang ada yang kurang pas di hati, sampaikan dengan cara yang ahsan, syuro’ mungkin atau via media lainnya jika memang tidak memungkinkan bicara langsung. 

Hingga disimpulkan:
Sejarah memang berulang. Hal seperti ini sudah pernah terjadi juga di tahun- tahun sebelumya. Komunikasi yang baik adalah akar penyelesaian dari semuanya. Itu juga alasannya kenapa banyak media komunikasi yang hari ini disuguhi kepada kita. Tidak lain dan tidak bukan agar kita bisa menciptakan komunikasi yang sehat satu sama lain. Bukan hanya kinerja kita yang akan membaik lewat komunikasi yang sehat ini, namun juga kondisi hati kita juga akan semakin sehat. Tidak akan ada lagi prasangka- prasangka buruk yang menambah titik hitam di hati kita. Tidak akan ada lagi wajah- wajah kusut nan kusam memikirkan sikap saudara kita yang tiba- tiba berubah. Komunikasikan! Hingga kesalahan- kesalahan yang sama tidak terjadi berulangkali dan semua kita menikmati perjalanan dakwah ini

Selamat datang di rumah hangat kita, Lembaga Dakwah Kampus! (18/02san)

Feb 8, 2012

Penerimaan Beasiswa PPA dan BBM UNIMED 2012


Sesuai dengan  surat Pembantu Rektor III perihal penerimaan Beasiswa BBM dan PPA bagi mahasiswa UNIMED tahun 2012, maka dengan ini diumumkan kepada mahasiswa FBS yang ingin mendapat beasiswa agar segera mengajukan permohonannya dengan persyaratan sebagai berikut:
1.   Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA untuk 170 orang), dengan prioritas sebagai berikut:
a.       Mahasiswa yang memiliki IPK tertinggi
b.      Mahasiswa yang bagi orangtuanya paling tidak mampu

2.   Beasiswa Biaya Belajar Mahasiswa (BBm untuk 170 orang), dengan prioritas sebagai berikut:
a.       Mahasiswa yang orangtuanya paling tidak mampu
b.      Mahasiswa yang memiliki IPK tertinggi

3.   Mahasiswa regular yang duduk pada semester II hingga semester VIII yang memiliki IPK serendahnya 3,00 (khusus PPA) dan 2,75 (khusus BBM). Khusus untuk mahasiswa semester II, IP serendahnya 3,75

4.   Mengajukan permohonan tertulis kepada Rektor UNIMED untuk mendapatkan bantuan *dengan melampirkan berkas:
a.       Fotocopy KTM, KRS, dan Kwitansi pembayaran SPP semester genap 2011/ 2012
b.      Fotocopy rekening listrik bulan Januari 2012 atau bukti pembayaran PBB dari alamat orangtua
c.       Surat pernyataan tidak sedang menerima beasiswa dari sumber lain* pakai materai Rp. 6000,-
d.      Fotocopy Kartu Keluarga (dileges lurah/ kepdes setempat)
e.       Fotocopy KHS terakhir
f.       Surat Keterangan Tidak Mampu atau layak mendapat bantuan beasiswa yang dikeluarkan oleh kelurahan atau kepala desa alamat orangtua (khusus pemohon beasiswa BBM)
g.      Surat Keterangan Penghasilan orangtua pemohon beasiswa PPA oleh Lurah/ Kepdes yang bagi orangtuanya bukan PNS atau pegawai swasta atau BUMN. Bagi orangtuanya PNS/ Swasta/ BUMN harus disertakan fotocopy daftar gaji yang telah dileges
h.      Fotocopy buku rekening BNI (wajib dilampirkan, jika tidak ada, tidak akan diproses)

5.   Permohonan paling lambat Kamis, 16 Februari 2012 pukul 15.00, diantar sendiri ke Kasub kemahasiswaan FBS Ged. 69 Lt. II

6.   Masing2 berkas dibuat rangkap 2 dan disusun menurut urutan seperti di atas


7.   Warna map disesuaikan dengan jurusan masing2

8.   Lebih diprioritaskan apabila pemohon membuat PKM- AI atau PKM- GT yang sesuai dengan ketentuan dan siap dikirimkan  (lihat buku panduan pada dp2mdikti.go.id)

9.   Di depan map dituliskan identitas yang lengkap antara lain; 1. Nama, 2. Nim, 3. Jurusan, 4. IPK, 5. Alamat di Medan, 6. Pekerjaan orangtua, 7. Penghasilan orangtua, 8. No HP yang dapat dihubungi

Demikianlah kami umumkan untuk dapat dimaklumi.


*Format tersedia

Medan, 06 Februari 2012
a.n. Dekan
Pembantu Dekan III


Dr. Daulat Saragi, M. Hum.
NIP. 19641107 199103 1010


Further information:
UKMIerzz FBS

Jan 14, 2012

Kunci Meraih Ketenangan Hati

    Banyak orang mencari berbagai cara agar mampu mendapatkan ketenangan hati. Karena ketidaktahuannya, tidak sedikit dari mereka yang mencari jalan pintas untuk mendapatkan ketenangan hati tersebut. Pada akhirnya mereka terjerumus kepada hal-hal yang bertentangan dengan nilai yang diyakini oleh hati mereka sendiri. Tanpa disadari mereka hanya mendapatkan kesenangan sesaat yang merugikan. Contoh yang dewasa ini kerap muncul di sekitar kita seperti; minum obat terlarang (baca: narkotika), minum-minuman keras, hiburan malam dsb.
   Apakah dengan melakukan hal-hal tadi hati akan tiba-tiba menjadi tenang? Tidak. Bahkan yang akan muncul adalah kegelisahan tak berujung. Mengapa? Allah SWT telah memberikan jawaban melalui firman-Nya. “Kemudian hatimu menjadi keras sesudah itu, sehingga seperti batu, malahan lebih keras lagi. Sebab ada batu-batu yang memancar sungai-sungai daripadanya, dan ada pula yang terbelah mengeluarkan air. Dan ada pula yang meluncur jatuh, karena takutnya kepada Allah. Dan Allah tiada lengah terhadap apa yang kamu lakukan”. (QS. Al-Baqarah [02]: 74).
   Ali bin Abi Thalib RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan, seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutupi oleh awan. Ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkap, ia pun kembali bercahaya” (HR. Bukhari-Muslim). Jelas bahwa setiap manusia mempunyai kemampuan menata hati sesuai dengan apa yang diharapkannya. Hati akan menjadi bersih dan tenang jika dirinya mengizinkan untuk itu. Dan sebaliknya, hati akan galau dan kotor jika internal dirinya pun mengizinkan. Maka sebaik-baik manusia adalah yang mampu mengendalikan dan menata hati, pikiran, sikap dan tindakan yang baik.
   Tahukah bahwa ketika kita ingin mendapatkan ketenangan hati, maka dekatilah Sang Pemilik dan Pemelihara hati sejati. Allahu Rabbul Izzati. Bukan melakukan sesuatu yang justru dapat menjauhkan diri kita dari-Nya. Seperti tertuang dalam perintah suci dari-Nya yang berbunyi “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Rad: 28).
   Cara kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya bisa dengan melakukan beberapa hal; banyak beristighfar astaghfirullah aladziim, bertaubat yang merupakan realisasi dari introspeksi diri, berkumpul dengan orang-orang shalih, mengikuti taklim, membaca buku-buku motivasi dan banyak lagi hal-hal positif yang bisa kita lakukan dan bermanfaat daripada melakukan kesenangan sesaat yang sebenarnya membawa kita pada jurang kenistaan serta menjaga kelangsungan amal shalih.
Rasulullah SAW bersabda “beramallah semaksimal mungkin yang kamu mampu. Karena Allah, tidak akan bosan sebelum kamu bosan dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinu walaupun sedikit”. (HR. Bukhari)
   Hilangkanlah stigma yang berlaku di lingkungan kita bahwa hanya orang-orang kuperlah yang tidak pernah mencicipi minuman keras, narkoba dan hiburan malam. Ingat bahwa ayat di atas mengajak kita untuk mendapatkan ketenangan hati yang hakiki. Yakni hati seorang hamba yang hanya terpaut pada pemilik hati sesungguhnya. Maka setelah itu temukanlah diri kita hadir sebagai sosok yang damai dan tenang. Insya Allah. Wallahualam bish shawab.