Pages

Jan 9, 2011

Jagalah Allah, maka Allah akan Menjagamu

Dari Abil Abbas Abdullah bin Abbas dia berkata :
“Dahulu aku pernah berada di belakang Rasulullah, lalu beliau bersabda :
“Wahai anak kecil sesungguhnya aku ingin mengajarimu beberapa kata, jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu, jagalah Allah pasti kau akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkanmu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah di angkat pena dan telah kering tinta” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata hadits hasan shohih).
Di dalam riwayat selain Tirmidzi :
“Jagalah Allah maka engkau akan mendapatkan-Nya dihadapanmu, kenalilah Allah di kala senang maka Dia akan mengenalmu di kala susah. Ketahuilah sesungguhnya apa yang tidak menimpamu maka dia tidak akan menimpamu dan apa yang akan menimpamu pasti dia akan menimpamu (tidak akan meleset). Dan ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan.”
Takhrij Hadits
Hadits shohih, hadits ini memiliki 7 jalan dan lafadznya berbeda-beda. Dan yang paling baik adalahiwayat Hanasy ash-Shon’ani dari Ibnu Abbas, dia berkata :
“Dahulu aku pernah dibelakang Rasululllah ……”
Riwayat ini dikeluarkan oleh Tirmidzi 2635 bersama Tuhfatul Ahwadzi dan ini lafadz beliau, Ahmad 1/293, Ibnu Wahab dalam Al-Qodr 28, Abu Ya’la dalam musnadnya 2556, Ibnu Sunny dalam Amalul Yaum Wal Laila 327 dan Thobrani dalam Do’a 42 dari jalan Laits bin Sa’ad dari Qois bin Hajjaj dari Ibnu Abbas.
Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali mengatakan : Isnadnya shohih dan perowi-perowinya tsiqoh.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad 1/203&207, Baihaqi dalam Asma’ Wa Sifat hal 97, Lalikai dalam Syarh Ushulu I’tiqod Ahli Sunnah Wal Jama’ah 1094&1095 dari jalan lain dari Qois bin al-Hajjaj. Dan juga dikuatkan oleh Yazid bin Abi Habib dari Hanasy, dan ini dikeluarkan oleh al-Ajuri dalam Syari’ah hal 198)
Syaikh Salim mengatakan : “Isnadnya shohih, meskipun sebagian jalan-jalannya yang lain tidak luput dari kelemahan tapi pegangannya adalah yang telah di sebut di atas. Wallahu a’lam.1 1. Shohih kitabul Adzkar wa dhoifuhu Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaly 2/999-1000.
Kedudukan Hadits
Ibnu Rojab berkata : “Hadits ini mengandung wasiat yang berharga dan kaidah-kaidah umum tentang hal-hal penting dalam agama, sampai-sampai sebagian Ulama mengatakan ‘ketika aku merenungi hadits ini aku sangat tertarik sekali dan hampir-hampir aku gemetar.’ Maka sangat disayangkan jika ada yang tidak tahu dan tidak memahami makna hadits ini.”
Penjelasan Hadits
Nabi bersabda :
“Jagalah Allah maka Allah pasti menjagamu”.
Maknanya adalah jagalah perintah-perintah, larangan-larangan dan batasan-batasan serta hak-hak Allah yaitu dengan menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan serta menjauhi apa yang di larang. Barangsiapa yang melaksanakan hal itu maka Allah telah memujinya dalam firman-Nya :
“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS.Qoof: 32-33)
Termasuk hal yang penting untuk di jaga adalah sholat sebagaimana firman Allah ta’ala :
“Jagalah segala sholatmu dan sholat wustho (shalat ashar).” (QS. Al-Baqoroh : 238)
Allah sangat memuji orang yang menjaga sholatnya:
“Dan orang yang selalu menjaga sholat mereka.” (QS. Al-Ma’arij : 34)
Allah juga memerintahkan untuk menjaga sumpah:
“Dan jagalah sumpahmu” (QS. Al-Maidah : 89)
Dan memerintahkan untuk menjaga kemaluan :
“Dan orang laki-laki dan orang perempuan yang menjaga kemaluan-kemaluan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Sabda Nabi : “Maka pasti Allah menjagamu” maknanya adalah barangsiapa yang menjaga perintah-perintah Allah serta menjalankan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan yang dilarang maka pasti Allah menjaganya, karena balasan itu tergantung dari perbuatannya.
Allah berfirman :
“Jika kalian menolong Allah maka pasti Allah menolong kalian” (QS. Muhammad : 7).
Penjagaan Allah kepada hamba-Nya di dunia ini berupa penjagaan terhadap kebaikan dan kemaslahatan dunia, badan, harta serta keluarganya.
Allah berfirman :
“Sedang ayahnya adalah seorang yang sholeh” (QS. Al-Kahfi : 82).
Imam Ibnu Katsir berkata (tentang tafsir ayat tersebut) : “Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa orang yang sholih itu keturunannya akan di jaga oleh Allah. Barokah ibadahnya akan meliputi mereka di dunia dan di akhirat. Dan dengan syafaatnya di hari akhir kelak mereka akan di angkat derajatnya di surga untuk menyejukkan pandangan orang tua mereka, sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, Said bin Jubair mengatakan bahwa Ibnu Abbas menafsirkan ayat di atas dengan ucapan beliau : Mereka berdua di jaga dengan sebab kesholehan kedua orang tua mereka.” 2 2. Tafsir Ibnu Katsir 3/134.
Barangsiapa yang menjaga Allah pasti Allah menjaganya dari segala mara bahaya. Sebagaimana perkataan salaf :
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka dia telah menjaga dirinya, dan barangsiapa yang tidak bertakwa maka dia telah menelantarkan dirinya sendiri sedang Allah tidak butuh kepadanya.”
Diantara penjagaan Allah yang amat menakjubkan adalah penjagaan-Nya bagi seseorang yang bertakwa dari binatang buas. Bahkan binatang buas tersebut menjadi penjaganya seperti yang terjadi pada Safinah pembantu Rasulullah ketika perahunya pecah dan dia terdampar di sebuah pulau. Lalu dia melihat seekor harimau tapi harimau tersebut malah menunjukinya jalan keluar hingga harimau itu berhenti seraya bersuara (meraung) seakan-akan dia mengucapkan selamat berpisah dan akhirnya harimau itupun kembali ketempatnya semula. 3 3. Diriwayatkan oleh Tabrani dalam “Al-Mu’jam Al-Kabir” dengan sanad yang hasan lihat juga “Jami’ulum Wal Hikam” hal 468 oleh Ibnu Rajab.
Penjagaan Allah bagi hamba-Nya juga berupa penjagaan terhadap agama dan keimanannya dari segala syubhat yang menyesatkan dan dari syahwat yang diharamkan hingga dia bertemu Allah dalam keadaan diridhoi-Nya. Oleh karena itu Nabi berdoa agar di jaga oleh Allah ta’ala :
“Ya Allah, jika engkau mewafatkan diriku maka ampunilah aku, dan jika engkau membiarkan diriku hidup maka jagalah aku sebagaimana engkau menjaga orang-orang yang sholeh.”. HR. Bukhari 8/169.
Nabi Yusuf di jaga oleh Allah dari fitnah yang menyesatkan dan dari syahwat yang diharamkan, Allah berfirman :
“Demikianlah kami palingkan dia dari kejelekan dan kekejian, sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba kami yang ikhlas” (QS. Yusuf : 24)
Kebersamaan Allah Dengan Hambanya yang Bertakwa
Nabi bersabda :
“Jagalah Allah pasti kau akan menjumpai-Nya dihadapanmu.”
Barangsiapa yang menjaga perintah-perintah Allah dalam diri dan keluarganya serta istiqomah di atas al-Quran dan Sunnah, maka Allah pasti bersamanya. Arti kebersamaan ini bukan seperti yang diyakini orang-orang wihdatul wujud (Manunggaling Kawulo Gusti) dari kalangan extrim sufi yang meyakini Allah bersatu dalam diri makhluk-Nya atau hamba-Nya yang sholeh -Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan-. Ini bukan dari Islam bahkan ini adalah aqidah orang-orang Nashara tentang Isa q. Sesungguhnya Allah bersemayam di atas Arsy-Nya di atas langit ketujuh :
“Allah yang Maha Penyayang bersemayam di atas Arsy” (QS. Thoha : 5)
Allah bersama dengan hamba-Nya dengan penglihatan, pendengaran, pengawasan atau pertolongan-Nya,-pent. dalam setiap keadaan. Allah akan memberinya petunjuk dan taufik, melindungi, menolong dan menjaganya. Allah ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl : 128).
Dan Allah berfiman kepada Musa dan Harun :
“Janganlah kalian berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kalian. Aku mendengar dan melihat” (QS. Thoha : 46).
Allah juga berfirman menceritakan tentang Musa :
“Sesungguhnya Rabbku bersamaku Dialah yang memberiku petunjuk” (QS. Asy-Syu’ara : 62).
Dan Nabi Muhammad pernah berkata kepada Abu Bakar :
“Janganlah kau bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. At-Taubah : 40).
Inilah kebersamaan Allah yang khusus (bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa-pent) yang berupa pertolongan, penjagaan dan bantuan seperti yang dijelaskan oleh para Ulama. Hal ini berlainan dengan kebersamaan-Nya secara umum (bagi semua makhluk-Nya yang kafir atau yang mukmin yang berupa pengawasan dan pendengaran serta penglihatan-pent) seperti dalam firman-Nya :
“Tiada pembicaraanahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya” (QS. Al-Mujaadilah : 7)
Dan firman-Nya :
“Tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah padahal Allah beserta mereka” (QS. An-Nisaa : 108).
Kebersamaan ini berupa pengetahuan Allah, pengawasan-Nya terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan ini mengandung ancaman.
Hukum Minta Pertolongan
Nabi bersabda :
“Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah”. Yang di maksud dengan meminta di sini adalah berdo’a dan do’a itu adalah ibadah.
Allah ta’ala berfirman :
“Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya” (QS. An-Nisaa : 32)
Allah ta’ala mengancam orang sombong yang tidak mau berdo’a kepada-Nya.
“Dan Robb kalian berfirman : Berdo’alah kepadaku maka pasti aku akan kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari menyembah kepada-Ku maka pasti mereka akan masuk ke neraka jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Al-Mukmin : 60)
Maka wajib bagi seorang Muslim untuk dia tidak meminta/berdo’a kepada selain Allah dalam hal-hal yang tidak sanggup untuk melakukannya kecuali Allah. Barangsiapa yang meminta/berdo’a kepada selain Allah maka dia terjerumus kedalam kesyirikan yang Allah telah melarang hamba-Nya darinya. Allah berfirman :
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdo’a kepada selain Allah yang tidak bisa memperkenankan do’anya sampai hari kiamat” (QS. Al-Ahqof : 5).
Ibnuajab berkata: “Ketahuilah bahwa meminta kepada Allah adalah suatu yang wajib dilakukan. Karena meminta itu mengandung arti merendahkan diri, tunduk serta mengharapkan dan membutuhkan dari sang peminta (hamba). Dan hal tersebut juga mengandung pengakuan akan kemampuan yang di minta (Allah) untuk menghilangkan kesusahan dan mendatangkan kemanfaatan. Tidak ada yang patut untuk seorang Muslim itu merendahkan diri dan mengharapkan kecuali kepada Allah saja. Dan inilah hakikat ibadah. Jamiul ulum wal hikam hal. 181

Adapun meminta manusia dalam perkara-perkara dunia yang mereka sanggup melakukannya maka hal ini (sebenarnya tidak dibolehkan kecuali pada waktu darurat-pent). Banyak hadits-hadits yang mencela meminta kepada manusia dan menganjurkan untuk bersikap memelihara diri dari meminta-minta. Nabi pernah bersabda : “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta itu tidak dibolehkan kecuali dalam salah satu dari tiga hal, yaitu :
1. Seseorang (yang mendamaikan pertikaian antara manusia lalu) dia menanggung beban biayanya maka boleh baginya meminta hingga dia mendapatkannya kemudian dia berhenti dari meminta.
2. Seseorang yang tertimpa bencana hingga musnah hartanya maka boleh baginya untuk meminta hingga dia mendapatkan hal yang bisa menopang hidupnya.
3. Seseorang yang tertimpa kemiskinan yang sangat hingga 3 orang yang cerdik dari kaumnya berkata: telah menimpa orang itu kemiskinan yang sangat maka boleh bagi orang ini untuk meminta sampai dia mendapatkan hal yang bisa menopang hidupnya.
Selain ketiga hal ini -wahai Qobishoh- meminta-minta itu termasuk memakan harta yang haram” (HR Muslim)
Hadits di atas ini menunjukkan akan haramnya meminta-minta dan hal tersebut tidak dibolehkan kecuali karena terpaksa seperti yang disebutkan dalam hadits atau yang semisalnya.
Allah memuji hamba-hamba-Nya yang memelihara diri mereka dari meminta-minta kepada manusia. Allah ta’ala berfirman :
“Berinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah ; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi ; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.” (QS. Al-Baqoroh : 273)
Nash-nash tentang hal ini banyak sekali, sebagiannya mengharamkan (seperti hadits di atas) dan sebagiannya lagi memakruhkan, semisal seorang meminta kebutuhan pribadinya kepada sahabatnya seperti kendaraan, bejana, pensil dll. Nabi pernah membaiat sekelompok dari sahabatnya untuk mereka tidak meminta kepada manusia sesuatupun (diantaranya Abu Bakr, Abu Dzar dan Tsauban). Pernah salah satu dari mereka suatu ketika jatuh cemeti atau tali kendali untanya, maka diapun tidak mau meminta seseorang untuk mengembalikan kepadanya. Maka sebagian Ulama ketika mengomentari hadits di atas berkata : “Didalamnya ada penjelasan bolehnya berpegang dengan keumuman (hadits) karena mereka dilarang meminta (secara umum) dan didalamnya juga terdapat anjuran untuk memelihara diri dari meminta-minta walaupun sesuatu yang kecil”
Meminta Pertolongan Hanya Kepada Allah Saja
Nabi bersabda :
“Apabila engkau meminta pertolongan mintalah kepada Allah.”
Seorang hamba meskipun memiliki kedudukan, kehormatan dan kekuasaan dia masih lemah dan fakir (membutuhkan) untuk mendapat manfaat dan untuk terhindar dari kemudharatan. Oleh karena itu wajib baginya meminta pertolongan kepada Allah saja untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Barangsiapa yang di tolong Allah maka dialah yang beruntung dan di beri petunjuk. Dan barangsiapa yang tidak di tolong Allah dan dibiarkan saja maka dia orang yang merugi dan gagal. Oleh karena itu besar sekali kedudukan ucapan (laa haula wala quwwata illa billahi). Ucapan tersebut adalah harta karun dari surga sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah. Karena ucapan tersebut mengandung pengakuan bahwa tidak ada daya kekuatan bagi seorang hamba untuk berbuat kecuali dengan pertolongan Allah ta’ala.
Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk meminta pertolongan hanya kepada Allah saja baik dalam menjalankan ketaatan atau meninggalkan kemaksiatan atau dalam bersabar atas semua yang menimpanya dan dalam istiqomah (di atas agama-Nya) hingga dia bertemu Allah di hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak keturunan. Allah ta’ala berfirman :
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al-Fatihah : 5).
Nabi bersabda :
“Bersungguh-sungguhlah untuk berbuat yang bermanfaat dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan engkau lemah” (HR. Muslim 5/521)
Iman Kepada Qodo’ dan Qodar
Nabi bersabda :
“Ketahuilah seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditaqdirkan Allah untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkamu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah di angkat pena dan telah kering tinta”
Di dalam hadits Rasulullah inilah terdapat penjelasan tentang Qodho’ dan Qodar, maka wajib bagi seorang hamba untuk mengimaninya. Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu yang dikerjakan hamba-Nya berupa kebaikan dan kejelekan dengan terperinci dan ilmunya tidak didahului oleh ketidak tahuan. Dan Allah maha mengetahui apa yang menimpa seorang hamba dari kebaikan (atau musibah) dan dia telah menuliskannya di lauhul mahfudz.
Nabi bersabda:
“Sesungguhnya Allah menuliskan takdir semua makhluk ini sejak 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda :
“Sesungguhnya makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah al-Qolam lalu Allah mengatakan kepadanya : Tulislah (takdir semua makhluk ini -pent), maka sejak itupun berjalan takdir Allah hingga hari kiamat” (HR. Ahmad 5/317 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Syarh Aqidah Thohawiyah hal. 294)
Seorang hamba tidak akan di timpa oleh sesuatu pun dari kebaikan dan musibah melainkan yang telah Allah takdirkan baginya. Barangsiapa yang akan Allah beri kebaikan maka tidak ada seorang pun dari penghuni langit dan bumi yang bisa menghalangi kebaikan tersebut, meskipun mereka bersatu-padu. Hal ini telah Allah jelaskan dalam al-Qur’an :
“Katakanlah : tidak ada yang menimpa kami melainkan yang telah Allah tuliskan untuk kami” (QS. At-Taubah : 51).
Dan Allah berfirman :
“Katakanlah : sekiranya kamu berada dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ketempat mereka terbunuh” (QS. Ali-Imran : 154).
Oleh karena itulah Nabi bersabda :
“Telah di angkat pena dan telah kering tinta”.
Ibnu Rojab berkata :
“Ini adalah kinayah/perumpamaan kan berlalunya/berjalannya semua takdir dari waktu yang lampau. Karena sebuah buku yang telah selesai penulisannya dan telah di angkat pena serta berlalu lama maka tinta pena yang di buat menulis itupun kering begitu pula yang dibuat menulis di kitab tersebut. Ini adalah seindah-indahnya perumpamaan/kinayah”. Jami’ul Ulum Wal Hikam hal. 182
Kenalilah Allah di Kala Senang Maka Allah Akan Mengenalimu di Kala Susah.
Ini adalah kata-kata mutiara Nabi yang selayaknya untuk diingat dan disebarkan. Didalamnya ada seruan untuk selalu ingat kepada Allah di kala senang, aman, sehat, dan kaya serta gagah perkasa. Mengingat-Nya adalah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan-Nya serta dengan melaksanakan yang sunnah/nafilah. Barangsiapa yang ingat Allah di kala bahagia maka Allah pasti akan mengenalinya di kala kesempitan, kemiskinan, kesusahan dan di saat dia berduka cita serta menderita. Berapa banyak kesusahan di dunia ini yang menimpa seorang muslim, akan tetapi jika Allah mengenalinya maka Allah akan membantu dan menguatkannya di atas kebenaran dan menolongnya.
Sesungguhnya Nabi Muhammad selalu mengenal Rabb-Nya di kala senang dan bahagia hingga Allah pun mengenali/menolong beliau di kala di gua (tsaur), di perang Badar & Ahzab. Dialah yang menolong Nabi-Nya dan meninggikan benderanya. Demikian pula dengan Nabi Yunus q beliau selalu mengenali Rabbnya di kala suka cita maka Allah pun mengenalinya di kala di dalam perut ikan dan Allahlah yang menyelamatkannya.
Kemenangan Bersama Kesabaran
Nabi bersabda :
“Ketahuilah bahwasanya kemenangan itu bersama kesabaran”.
Hal ini dikuatkan oleh firman Allah ta’ala :
“Berapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak dengan seizin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar” (QS. Al-Baqarah : 249)
Dan firman-Nya :
“Jika ada diantara kalian seribu orang maka mereka akan mengalahkan 2000 (pasukan musuh) dengan seizin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar” (QS. Al-Anfal : 66)
Sabar adalah perangai mulia yang selalu dibutuhkan oleh seorang muslim hingga dia dapat melaksanakan perintah Allah. Bencana yang ditimpakan Allah kepada hamba-hamba-Nya juga membutuhkan kesabaran. Begitu pula gangguan-gangguan danintangan-rintangan yang dihadapi oleh seorang muslim dalam perjalanan dakwahnya memerlukan kesabaran. Meninggalkan nafsu syahwat dan larangan-larangan Allah sangat membutuhkan kesabaran. Karena hawa nafsu itu selalu menggoda manusia akan tetapi yang bisa selamat hanyalah yang di jaga oleh Allah ta’ala. Menjaga keta’atan kepada Allah membutuhkan kesabaran dan demikian juga dengan memerangi musuh-musuh Allah sangat menbutuhkan kesabaran. Karena jihad didalamnya banyak onak dan duri. Bersabar dalam menghadapi mereka merupakan sebab kemenangan seperti yang di jelaskan oleh Rasulullah. Kemenangan yang dijanjikan oleh Rasulullah ini mencakup 2 bentuk jihad, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Rajab :
“Kemenangan itu mencakup 2 bentuk jihad, Jihad melawan musuh yang dhohir/nampak dan jihad melawan musuh yang batin/tidak nampak (yaitu hawa nafsu). Barang siapa yang bersabar menghadapi keduanya maka dia akan mendapat kemenangan dan pertolongan. Dan barang siapa yang tidak bersabar menghadapi keduanya maka dia akan kalah dan menjadi tawanan atau terbunuh.” (Jami’ul Ulum wal Hikam 186)
Kelapangan Datang Setelah Kesempitan
Nabi bersabda :
“Sesungguhnya kelapangan datang setelah kesempitan.”
Musibah, fitnah, ujian dan cobaan kadang menghujani diri seorang muslim, semakin lama terkadang semakin bertambah dan seolah-olah dunia terasa sempit baginya. Maka kesedihan dan kesusahan pun menghimpitnya, tapi apabila dia bersabar dan mengharapkan pahala Allah atas musibah tersebut serta dia meyakini bahwa semua ini telah ditaqdirkan dan ditentukan oleh Allah dan dia tidak putus asa akan pertolongan/rahmat Allah maka dia akan mendapatkan pertolongan, pengampunan danahmat Allah. Dan akan datang kelapangan padanya. Dan dibalik musibah itu sebenarnya banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa dipetiknya. Allah ta’ala berfirman :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan macam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS. Al-Baqarah : 214).
Rasulullah pada waktu perang Ahzab ditimpa dan diuji dengan berbagai macam ujian,asa takut, lapar, dingin dan kesulitan akan tetapi mereka para sahabat bersama beliau selalu tegar menghadapi semua itu seperti tegarnya gunung batu yang kokoh. Lalu datanglah pertolongan Allah.
Kemudahan Pasti Datang Setelah Kesulitan
Nabi bersabda :
“Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan.”
Hal ini juga tercantum dalam firman-Nya :
“Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan” (QS. Ath-Tholaq : 7)
Dan firman-Nya :
“Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan dan sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan” (QS. Asy-Syarhu : 5-6)
Sesungguhnya kesulitan, kesedihan, kesempitan dan musibah-musibah itu akan menjadikan seorang muslim suci dan bersih dari kotoran-kotoran (dosa dan noda) dan akan menjadikan hatinya selalu bergantung kepada Allah dan semakin bertambah ketergantungan ini seiring dahsyatnya musibah dan cobaan. Seorang Muslim akan selalu merendahkan dirinya kepada Allah dengan niat yang ikhlas. Dan inilah sebab dihilangkannya kesulitan. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah mengatakan :
Bersabarlah, karena kelapangan itu akan datang secepatnya
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala perkaranya maka dia akan bahagia
Barangsiapa yang selalu menyerahkan diri kepada Allah maka dia tidak akan ditimpa bencana
Dan barangsiapa yang mengharap kepada Allah dia akan mendapatkan harapannya
Di dalam hadits di atas Rasulullah menekankan bahwa kemudahan tidak akan kekal abadi selama dia mau bersabar dan mengharap pahala serta yakin bahwa semua itu telah ditaqdirkan oleh Allah ta’ala dan tidak ada tempat untuk melarikan diri darinya, lalu diapun tetap istiqomah di atas agama-Nya.
Pelajaran-Pelajaran Yang Bisa Diambil Dari Hadits
1. Diharapkan bagi seorang guru untuk memusatkan perhatian murid sebelum dimulainya pelajaran. Hal ini diambil dari sabda beliau : “Wahai anak kecil, aku ingin mengajarimu beberapa kata”
2. Anjuran untuk mendidik dan mengajari anak-anak ilmu agama
3. Anjuran untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dalam hal-hal yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Sebagaimana Rasululllah menggunakan kesempatan berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain dengan memberikan wasiat berharga bagi Ibnu Abbas yang membonceng di belakang beliau.
4. Anjuran untuk bersifat jantan dan berani tapi dengan memakai akal pikiran dan mengerahkan daya upaya. Barangsiapa yang meyakini bahwa madharat dan manfaat itu hanya di tangan Allah dan bahwasanya yang menimpa dirinya dari manfaat dan madharat itu dari taqdir Allah maka hal ini semua akan menjadikannya gagah berani.

i

http://kaffah4829.wordpress.com/artikel/jagalah-allah-maka-allah-pasti-menjagamu/

Kader Multi- Amanah: Dipertahankan Or Dipermasalahkan??

Menjadi Aktivis Dakwah Kampus adalah pilihan, begitu juga menjadi Pelaku Dakwah Kampus Statis. Sejatinya, Ketika memilih tuk menjadi salah satu dari keduanya, tentu bakal ada berbagai kemungkinan yang terjadi. Karena memang segala sesuatu punya resiko, dan tidak terkecuali dalam hal ini. Dalam kegiatan dakwah kampus yang sebagian kampus gencar mengadakan acara dan tidak jarang pula ada kampus yang diam dari kegiatan dakwah.
Bukankah kita memang sudah diajarkan tuk menjadi sosok yang multi function?

Di satu sisi kita harus menjadi sosok yang taat pada perintah orang yang lebih tua, dan di satu sisi kita juga harus bisa menuntun dan mengarahkan orang lain tuk berbuat sesuatu.
Di satu kesempatan kita harus menjadi sosok yang bisa mendengarkan, dan di kesempatan lain kita juga harus bisa memberi solusi.
Yang pasti, semua ada saatnya. Dan pada saat yang tepat, semua akan berubah. Keadaan bisa menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi perubahan itu. The Power of Kepepet adalah hal yang bisa merubah diri.
Kader multi amanah sudah tidak asing lagi bagi diri seorang aktivis. Menerima amanah yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikir bisa dilakukannya. Dan keadaan akan merubah segalanya. Kemauan yang kuat untuk berubah dan impian yang jelas akan terciptanya kampus madani adalah kekuatan besar yang akan bisa membangunkan raksasa yang tertidur dalam diri setiap kita: aktivis dakwah kampus.
Menjadi catatan juga, sangat tidak mungkin jika kita terus berada dalam posisi yang sama dari waktu ke waktu, mengemban amanah yang proporsinya selalu sama, melaksanakan agenda dakwah yang monoton.
Jadi, bukan saatnya lagi mempermasalahkan kader multi amanah. Namun, mari fokus ke penyelesaiannya. Ciptakan kader yang berkualitas agar amanah bisa disebarkan hingga makin luas lah persebaran dakwah di kampus.
Kampus Madani Bukan Hanya Mimpi.


*Tulisan ini hadir sebagai bentuk rasa bangga penulis kepada teman2 yang masih bisa tetap amanah dalam mengemban tugas dakwah kampus.
Selamat Bertugas kepada para pengurus Puskomda Sumut 2011- 2013. Menuju Sumut Madani.
Semoga tetap dalam Keberkahan Allah.

http://penulismudasukses.blogspot.com/2011/01/kader-multi-amanah-dipertahankan-or.html

Dec 4, 2010


Persiapan untuk seleksi beasiswa S2 ke Jepang...
by Danang Ambar Prabowo Dua on Saturday, December 4, 2010 at 11:42am
Bissmillah…
Berhubung akhir-akhir ini banyak yang menanyakan hal yang kurang lebih sama kepada saya:
“…Apa yang kira-kira perlu disiapkan untuk bisa mendapatkan beasiswa S2 ke Jepang…?”

Insya Allah akan saya uraikan jawabannya di sini, insya Allah.
Hajimemashou…
Persiapan yang baik adalah persiapan yang dilakukan jauh-jauh hari secara matang dan terencana. Namun jika Anda baru menyiapkan sekarang-sekarang ini, insya Allah tetap bisa mencobanya.
Hal yang perlu disiapkan:
  1. Persiapan mental dan spiritual.
 Jika Anda saat ini adalah mahasiswa tingkat awal (1, 2, dan 3)… maka Anda masih memiliki waktu yang sangat cukup untuk menyiapkan diri. Jika Anda adalah mahasiswa tahun terakhir atau bahkan sudah lulus... insya Allah Anda masih bisa mencoba dan mempersiapkan diri. Persiapan yang diperlukan di sini adalah terkait dengan pembentukan karakter, pola pikir, dan manajemen diri. Mungkin akan ada yang menyeletuk:

“Walah mau persiapan sekolah ke luar negeri aja repot gitu…?”
Maka saya dengan tegas akan menjawab:
“Ya tentu, agar kita tidak repot sendirinya nanti selama di sana”.

Pembentukan karakter ini penting agar setiap orang nantinya memiliki komitmen dan prinsip diri selama berada di negeri asing. Tidak melebur dan hancur, namun mampu menyerap hal-hal positif selama di sana, mengembangkannya, dan mendayagunakannya untuk hal-hal yang lebih baik nantinya.

Pembentukan karakter dan pola pikir juga bermaksud agar masing-masing orang yang ingin studi di luar negeri nantinya tidak hanya berpikir bahwa ke sana itu hanya sekedar “jalan-jalan, gengsi, menikmati budaya, merasakan berbagai musim dan lainnya”... namun agar setiap individu sadar bahwa tujuan ke negeri di luar sana adalah untuk: BELAJAR. Bahwa di balik indahnya “jalan-jalan” menikmati sakura, tebalnya salju, indahnya musim gugur, atau budaya Jepang yang sangat khas... ada sebuah tanggung jawab besar yang jauh lebih penting yaitu bagaimana bisa menyelesaikan studi dengan hasil terbaik yang bisa dilakukan. Perbedaan pola pikir dan pola kerja antara Jepang dan Indonesia...inilah Character Shock utama yang pasti akan dirasakan, namun justru jarang dipersiapkan dalam menghadapinya.

Anda bisa memulai persiapan tahap ini dengan melatih diri untuk hidup secara teratur, terencana, kerja keras dan disiplin. Di Jepang nantinya Anda mungkin akan berhadapan dengan kondisi akademis yang berbeda. Jika basis Anda nantinya adalah penelitian di Lab, bisa jadi keseharian Anda nantinya hanya akan dipenuhi dengan kegiatan di Lab yang kadang terasa monoton dan menjemukan. Dari pagi hingga malam, bahkan ketika Anda tidak ada kegiatan khusus di Lab pun... Anda akan merasakan bahwa Anda harus berada di Lab. Bahkan kadang ketika sabtu dan minggu sekalipun. Meski nantinya hal seperti ini sifatnya kondisional tergantung Lab Anda sendiri.

So... biasakan diri Anda dengan kondisi-kondisi seperti ini, kerja keras berdasarkan target dan rencana, hidup teratur (misal membiasakan membuang sampah pada tempat sampah, memisahkan sampah berdasarkan jenisnya) dan lainnya. Insya Allah itu akan sangat membantu Anda nantinya.

2.    Persiapan Kemampuan Diri / Skills
Hal pertama yang perlu disiapkan adalah: Kemampuan Komunikasi. Dalam hal ini paling tidak bahasa Inggris. Zaman sekarang berbahasa secara pasif saja tidaklah cukup, harus dilengkapi keaktifan berkomunikasi secara verbal. Dan ini tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Jika Anda punya alokasi dana untuk ikut kursus Bahasa Inggris, maka saya sarankan untuk ikut. Pilih kursus yang benar-benar bisa membantu Anda meningkatkan kemampuan Anda berbahasa Inggris. Beruntunglah mereka yang sejak SD atau SMP mendapatkan pelajaran bahasa Inggris, memahami bahwa bahasa Inggris suatu saat nanti akan sangat diperlukan, sehingga kemudian benar-benar serius mendalaminya dan mendapatkan manfaatnya sekarang.

Sayangnya banyak yang ketika SD – SMA dapat pelajaran Bahasa Inggris, namun justru main-main dan baru menyadari sekarang bahwa ternyata bahasa Inggris benar-benar diperlukan. Semoga Anda tidak termasuk di dalam kelompok orang-orang ini.

Namun cukupkah pasif dan aktif dalam berbahasa Inggris? Ternyata belum... karena rata-rata persyaratan yang diajukan oleh pemberi beasiswa saat ini biasanya mencantumkan adanya bukti resmi kemampuan berbahasa Inggris ini. Misalnya TOEFL, TOEIC, atau IELTS dengan standar skor yang telah ditetapkan oleh pemberi beasiswa. Misalnya untuk TOEFL... biasanya yang diminta adalah sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga yang diakui secara resmi secara internasional dengan skor minimal rata-rata adalah 550.

Dan bagi sebagian orang hal ini memerlukan perjuangan ekstra dalam mencapainya bukan hanya mempersiapkan untuk memenuhi standar minium skor tersebut... tapi juga finansial untuk bisa mendaftar mengikuti tes-nya.
So... persiapkan yang terbaik secara matang dan terencana... jauh-jauh hari.

Apakah kemampuan bahasa Jepang diperlukan dalam seleksi? Tentang ini sifatnya kondisional dari masing-masing panitia seleksi. Ada yang tidak mensyaratkan, ada yang mensyaratkan untuk lulus tes kemampuan bahasa Jepang setelah nanti berada di Jepang, dan lain-lain. Jika memang punya basic bahasa Jepang, alhamdulillah itu akan jauh lebih baik nantinya.

Kemampuan berkomunikasi akan sangat membantu Anda nantinya dalam survival selama di Jepang. Bahkan jauh hari sebelum berada di Jepang, misalnya komunikasi dengan calon Professor.

Hal kedua adalah... persiapan skill yang sesuai dengan bidang Anda saat ini atau bidang yang akan diambil nantinya ketika di Jepang. Misalnya... Jika Anda adalah mahasiswa biologi... maka paling tidak Anda memiliki skill dalam bidang anatomi makhluk hidup. Jika nantinya kerja Anda akan banyak di Lab... Anda harus menyiapkan diri untuk dapat memenuhi ketentuan perilaku di Lab (Laboratory Manner)... dan itupun membutuhkan skill.

3. Persiapkan Proposal / rencana penelitian dan studi
Ini merupakan syarat utama yang pasti selalu ada ketika Anda ingin melamar beasiswa studi S2 ke Jepang atau negara lainnya. Tentunya dalam bahasa Inggris. Bahkan gagasan utama dalam rencana riset/studi ini bisa menjadi penentu lolos atau tidaknya Anda untuk diseleksi.

Menyusun proposal riset itu gampang-gampang-mudah. Tergantung dari masing-masing individunya. Mengenai detail penyusunan proposal riset pasti dapat Anda temukan di kampus Anda masing-masing. Jadi silakan bertanya ke dosen atau kakak kelas yang saat ini sedang menyusun tugas akhir tentang hal ini.

Yang jelas, usahakan menyusun tema proposal riset ini yang sesuai dengan bidang Lab / Prof yang ingin Anda tuju dan sebaiknya berkaitan dengan bidang S1 anda saat ini. Itu akan mempengaruhi penilaian. Dari mana datangnya ide? Dari membaca buku, jurnal ilmiah, majalah, diskusi dengan dosen atau kakak kelas, dan lainnya. So persiapkan dengan cara terbaik.

4. Persiapkan Calon Professor (Sensei) yang akan dituju
Di Jepang, kedudukan Professor atau Sensei terhadap mahasiswanya (khusunya anggota Lab-nya) itu sangat penting. Bahkan ada istilah “guyonan serius” : “Nasib studimu di Jepang itu berada di tangan Sensei”.

Hal ini wajar karena memang sensei-lah yang menjadi guarantor kita selama studi di Jepang. Jika sensei sudah mengatakan: “Oke saya akan mengundang Anda untuk studi di Lab saya”... maka insya Allah Anda sudah mendapatkan tiket untuk studi ke Jepang. Oleh karena itu carilah Prof / Sensei sejak jauh2 hari.

Bagaimana mencari sensei yang tepat? Banyak caranya, yang saya lakukan adalah mencari alamat email masing-masing sensei di situs universitasnya. Saya baca publikasi dan bidang keahliannya. Jika cocok, saya kemudian mengirimkan email beserta proposal riset yang sudah saya buat sebelumnya.

Terkadang butuh proses dan kesabaran. Saya butuh waktu 2 tahunan untuk mendapatkan sensei yang tepat. Orang lain mungkin bisa mendapatkan lebih cepat. Semuanya kondisional. Yang pasti harus diusahakan. Lebih detailnya tentang ini bisa Anda baca di tulisan saya yang berjudul:

“A Roads to Dreams: Pedoman Melanjutkan S2 ke Jepang” di Blog saya : www.danangap7.multiply.com

5.    Persiapkan surat rekomendasi dari dosen/universitas
Di Jepang, surat rekomendasi memiliki peran penting dalam menilai calon mahasiswa. Oleh karena itu, sebaiknya Anda memiliki seseorang yang mengenal Anda dengan dekat (Dosen / Pejabat Kampus) yang bisa merekomendasikan diri Anda secara kuat ke calon Prof / Universitas / Panitia Seleksi.

Anda bisa menyiapkan diri dengan membangun hubungan yang baik dengan dosen Anda di kampus, mulai dari sekarang.

6.    Persiapkan untuk mendaftar seleksi beasiswa
Anda bisa mengikuti berbagai macam seleksi beasiswa. Selama Anda tahu info kapan pembukaan seleksi itu dibuka. Anda bisa mencari tahu di situs kedutaan Jepang, situs perusahaan Jepang (misal Panasonic, Fujitsu, Hitachi, dll), bisa dari pengumuman di kampus, diskusi dengan dosen atau kakak kelas, atau lainnya. Anda bisa mencoba cara saya yaitu nyari satu-satu di Google... meski butuh usaha ekstra juga.

Namun biasanya pembukaan seleksi diadakan akhir tahun atau antara bulan Januari-Mei. So, mulailah mencari dan mengumpulkan info dari sekarang. Setelah menemukan infonya... jangan lupa membaca seluruh ketentuan syarat detailnya dan penuhi syarat-syarat itu tanpa kecuali. Meski kadang butuh usaha dan pengorbanan ekstra untuk memenuhinya.

Mungkin demikian gambaran umumnya yang bisa saya jelaskan. Jika ada yang kurang jelas, silakan bisa ditanyakan. Jika ada rekan-rekan lain yang ingin menambahkan, dipersilahkan juga dengan sangat. Jika ada yang keliru mohon koreksiannya.

Note Tambahan:

Saya sering sekali mendengar/membaca keluhan seperti ini:

“... saya hanya orang pelosok, IPK saya kecil, saya gak punya dana, saya orangnya kuper, saya gak bisa bahasa Inggris, saya gak punya prestasi apa-apa, saya minder, bla, bla, bla... Apa mungkin saya bisa???”

Pokoke seluruh keluhan tentang kondisi dirinya keluar. Hanya satu tanggapan yang akan saya berikan:

“Hanya Anda yang tahu jawabannya... Sesungguhnya Allah itu sesuai dengan prasangkaan hamba-Nya”

Saya bukan ingin sekedar "menyindir"... namun berusaha menyadarkan setiap orang yang membaca tulisan ini dan masih memiliki pikiran seperti itu:

"Selama Anda berani dan mau mencoba, insya Allah akan ada jalan".

Saya termasuk "alumni" orang-orang yang dulu sering tidak PD dengan kondisi diri dan selalu merasa minder dibandingkan orang lain yang "terlihat" lebih "hebat". Padahal... tanpa saya sadari... orang-orang yang telihat "hebat" itupun memliki pikiran yang sama tentang diri saya... bahwa di mata mereka saya pun bisa "terlihat hebat". Ternyata Allah memberikan semua orang kesempatan yang sama untuk mencoba... yang membedakan kemudian adalah niat, kemauan, dan aksi yang kita ambil setelahnya!

Jangan jadikan kondisi diri Anda sebagai alasan untuk membuat diri Anda sendiri ragu. Jangan sampai Anda memelas untuk dikasihani karena kondisi Anda itu. Tahukah Anda bahwa kebanyakan orang jatuh bukan karena orang lain... tapi karena dirinya sendiri yang menjatuhkan. Mengeluh gak akan menyelesaikan masalah. Cari solusinya, karena Allah memberikan masalah sepaket dengan solusinya. Syaratnya adalah mau mencarinya atau tidak.

Jangan mendramatisir keadaan Anda dan... please jangan lebay !! No offense... :)
Hehehe... Ganbare...

“Man Jadda wa Jadda... Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil...

Teruslah Bergerak

Dalam surat Al-Insyirah Allah berfirman: Faidza Faraghta Fanshab (“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (Al Insyirah: 7). menegaskan agar perintah Allah kepada nabi saw dalam melakukan aktivitas dan kerja tidak mengenal kata henti dan istirahat artinya bahwa setelah menunaikan tugas dan aktivitas maka cari aktivitas dan kerja lainnya..!!
karena pada hakikat amal tak kan pernah usai dalam kehidupan di dunia ini.. selama hayat masih dikandung badan maka jangan pernah berhenti dalam beramal, berbuat, bekerja dan beraktivitas terutama untuk meraih dan menggapai pahala dan ridha Allah SWT.

Perang Badar baru saja usai. Namun peristiwa itu tidak bisa hilang begitu saja di benak para sahabat. Karena Badar merupakan pengalaman mereka yang pertama dalam keramaian genderang perang. Pengalaman yang menorehkan lukisan indah sebagai sebuah potret pengorbanan dan kesetiaan pada Islam. Sehingga dalam diri mereka masih terngiang-ngiang kejadian demi kejadian yang baru mereka alami. Para sahabat saling mengomentari pengalaman unik itu dengan antusias yang ditimpali oleh sahabat lainnya dengan cerita yang lebih seru.

Memang. Badar menjadi pemandangan yang menakjubkan dalam sejarah perjuangan kaum muslimin. Para sahabat sangat bersemangat untuk mengisahkan peristiwa tersebut. Karena batapa saratnya peristiwa perang Badar dengan sikap-sikap kepahlawanan kaum muslimin. Cerita yang mengalir deras itu membuat mereka keasyikan menceritakan pengalaman mereka hingga satu sama lain saling membanggakan perilaku mereka dan kadang juga memandang remeh apa yang telah dilakukan oleh yang lainnya. Lalu muncullah sikap kekeliruan mereka dengan mengatakan bahwa, ‘Anshorlah yang lebih hebat, Muhajirinlah yang lebih unggul, ‘Auslah yang lebih kesatria, Khajrazlah yang tak tertandingi’, dan sikap-sikap hubbul ghurur wa zhuhur lainnya.

Peristiwa itu nyaris menjadi sengketa di kalangan mereka. Dan ini dimanfaatkan kaum Yahudi untuk mengadu domba kaum muslimin. Musuh-musuh umat Islam itu pun memanas-manasi kaum muslimin dengan membangkitkan watak-watak jahiliyah. Lantaran diantara mereka saling membanggakan dirinya kemudian berujung pada pendirian masing-masing yang ingin membuktikan kehebatannya. Sehingga terdengarlah seruan, ‘senjata……., senjata………, mari kita buktikan siapa yang paling hebat’. Kejadian itu pun sampai ke telinga Rasulullah SAW. beliau amat geram dengan sikap para sahabat yang keliru itu. Lalu Allah SWT. mengingatkan mereka dengan turunnya surat Ali Imran: 100 – 102

“Hai orang-orang yang beriman jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu sampai menjadi kafir padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepadamu dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?. Barang siapa yang berpegang teguh kepada agama Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kau mati melainkan dalan keadaan beragama Islam. Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepada ketika kamu dahulu masa jahiliyah bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat itu orang-orang yang bersaudara. Dan kamu berada di tepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk”.

Sesudah itu Rasulullah SAW. melihat ada hal yang amat penting dari kasus itu adalah kaum muslimin mengalami waktu jeda dalam amaliyah dakwah. Hal ini sangat berpengaruh pada perilaku sahabat yang mudah menyimpan memori kenangan indah dan dapat membangkitkan sikap keliru tadi. Sehingga sesudah itu beliau memberikan amaliyah yang beruntun dan terus menerus tanpa henti untuk menunaikan tugas dakwah ini. Maka sesudah kejadian itu kaum muslimin melakukan beberapa ekspedisi militer hingga perang Uhud.

Amal Datang Tanpa Kenal Henti


Perjalanan waktu seiring dengan berjalannya amal. Bahkan keduanya saling lomba berdatangan. Kadang waktu mampu menyelesaikan sebuah amal. Namun kadang pula amal datang tanpa mampu ditunaikan meski telah berlalu beberapa waktu. Malah sering kali amal itu lebih banyak dari waktu yang tersedia sehingga ia tidak bisa diselesaikan oleh satu waktu atau satu generasi akan tetapi ia diselesaikan oleh waktu yang lain atau generasi berikutnya.

Kedatangan amal yang tak kenal henti sudah menjadi tabiat alam semesta. Selama putaran ala mini tidak pernah berhenti maka selama itu pula putaran amal yang tak kan henti. Meski demikian bagi seorang kader dakwah putaran waktu yang seiring dengan putaran amal bukanlah sesuatu yang harus dihindari melainkan harus diantisipasi agar dapat mengikuti alur perjalanan waktu dan amal. Seorang ulama dakwah telah lama mengingatkan murid-muridnya dengan menyatakan ‘mengalirlah bersama amal-amal ini niscaya ia akan mengalirkan dirimu’.

Karena itu catatan yang perlu kita tulis adalah jangan sampai mengabaikan kesempatan dan peluang yang telah diberikan kepada kita. Namun bila hal ini terabaikan maka nikmat kesempatan itu menjadi sia-sia. Rasulullah SAW. telah mengingatkan bahwa,

“Ada dua kenikmatan yang sering dilupakan manusia yakni kesempatan dan kesehatan”. (Muslim).

Jangan Pernah Lelah Dalam Beramal

Tidak dipungkiri lagi bahwa tabiat seorang mukmin sejati adalah berbuat, berbuat dan terus berbuat. Sehingga seluruh waktunya selalu diukur dengan produktivitas amalnya. Karena itu diam tanpa amal menjadi aib bagi orang beriman. Mereka harus mencermati peluang-peluang untuk selalu berbuat. Maka perlu diingat bahwa ‘ngangur’ dapat menjadi pintu kehancuran. Tidaklah mengherankan bahwa banyak ayat maupun hadits yang memberikan motivasi dan rangsangan agar selalu berbuat dan menghindari diri dari sikap malas dan lemah untuk berbuat. Untuk itu Rasulullah SAW. menyegerakan para sahabat melanjutkan agenda lainnya sebab bila tidak, yang terjadi adalah peluang konflik dan friksi antar sesama atau akan disibukan dengan hal-hal sepele.

“Pikiran tak dapat dibatasi, lisan tak dapat dibungkam, anggota tubuh tak dapat diam. Karena itu jika kamu tidak disibukan dengan hal-hal besar maka kamu akan disibukan dengan hal-hal kecil”. (Abdul Wahab Azzam).

Ritme kehidupan orang yang beriman selalu terus berada siklus hidupnya yang selalu berputar maka sesudah selesai menunaikan satu tugas maka ia harus menyiapkan dirinya untuk menunaikan tugas besar lainnya. Siklus yang demikian dapat menyehatkan diri dan amalnya karena ia dapat memanfaatkan waktunya dan dapat mengukir goresan indah dalam waktunya.

“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (Al-Insyirah: 7).


Bila perjalanan amal yang begitu panjang sering terjadi dalam kehidupan ini maka tidak ada pilihan lain kecuali mempersiapkan diri untuk mengarunginya. Salah satu penyiapan yang amat perlu dimiliki adalah sikap tidak pernah lelah dalam amal. Karena sikap lelah dan terus merasa lelah akan memperkecil potensi produktivitas dan akan menggerogoti energi untuk berbuat. Maka kita perlu mengantisipasi dan memerangi kelelahan kita. Bisa dengan recovery tarbiyah dengan mendisplinkan diri dalam menerapkan manhaj, rihlah, siyahah atau amal-amal tarbawi lainnya. Rasulullah SAW. pun menyuruhnya

“rehatkanlah hatimu karena hatimu tidak terbuat dari batu”.

Saatnya Kita Ukir Prestasi Dakwah Dengan Ukiran Terindah

Setiap kesempatan yang diberikan kepada seorang mukmin maka setiap saat itu pula ada satu kaedah perintah secara implisit untuk dapat mengukir prestasi dirinya. Agar apa yang dilakukannya dengan berputarnya waktu mampu disesuaikan dengan tuntutan zaman dan kapabilitas rijalnya. Seperti kaedah dakwah yang memaparkan;

“Setiap dakwah ada marhalahnya dan setiap marhalah ada tuntutannya dan setiap tuntutan ada orangnya”.

Sangat mudah untuk dipahami bila setiap waktu ada tuntutannya maka kita mesti menyelaraskan diri agar sesuai dengannya. Tuntutan ini selaras dengan amanah yang diembankan kepada kita saat ini. Dan dalam pandangan Islam setiap amanah merupakan suatu tugas yang tidak boleh dikhianati atau diabaikan hingga tidak dapat menunaikannya dengan baik.

Inilah kesempatan emas bagi kita untuk membuat ukiran terindah dalam hidup kita secara personal maupun kolektif agar kita mampu memberikan cermin indah bagi orang lain ataupun generasi berikutnya.

see more..http://www.al-ikhwan.net/faidza-faraghta-fanshab-3327/